Waktu itu, tidak tahun kapan pastinya. tanggalnya dan jamnya. Empat tahun silam kira-kira saya lupa. Tapi tidak kejadiannya. Memang tak pernah saya tulis. Dalam diary atau komputer teman. Tapi hanya tersimpan dalam memory. Jika dimasukkan dalam katagori hari, itu masuk hari Jum'at.
Dan ketika Jogja yang tidak punya kos itu, saya kesana kemari. Kesana ke kos teman saya. Kemari juga ke kos teman saya lainnya. Itulah kenapa saya bilang kepada dirimu yang hendak mapir ke tempatmu wahai kawan : "e...iya kawan, kosmu dimana? kapan aku maen kesana ya?"
Lalu saya menjawab:"Kosku yang terhitung baru 15 unit, kamu maunya yang didaerah mana?"
Masih ingat tatapanmu kala itu, wajahmu terlihat kaget bahkan hampir pingsan ketika mendengar saya mempunyai banyak kos-an.
Jum'at menjadi hari wajib untuk mendengarkan khutbah bagi saya sebagai seorang muslim. Karena itu saya selalu tinggal di kos yang dekat dengan tempat mendengarkan khotib. Karena itu, saya selalu pergi untuk berada di Condong Catur, yang memang masjidnya berada disamping kos-kosan tempat dimana saya akhirnya berada kala itu. Ada 6 kamar kos disana. 3 lawan 3 saling berhadapan.saya bisa tidur dimana saja.
Malam Jum'at yang cerah. Jogja terbuat dari bintang-bintang yang enak dipandang kala itu. Dipandang oleh saya dan teman-teman saya dari dasar lantai kos.Hilang sudah aura mistismu wahai malam jum'at. Tengah malam yang katanya kau lebih angker, kami bahkan semakin ceria. Tak ada rasa seram-pun di bulu kuduk kami. Itu karena perputaran kartu domino yang sering dikocok oleh si Haji yang sudah penuh dengan coretan kopi di wajahnya. Sampai pagi. Sampai bintang menghilang dan diganti mentari. Sampai saya-pun tidur yang tidak ada gangguan mimpi.
"Aoommhh..." meski terasa santai saya terasa dibangunkan olehmu. Tapi tetap tidak tenang. Dan akhirnya makin tidak tenang. Itu jam sudah lebih 5 menit dari angka 12. Kenapa kalian wahai temanku, tidak melambatkan jarum jam itu sehingga tetap dijam tujuh pertama kita memajamkan mata. Lihatlah sekarang! temanmu yang satu ini jadi terburu-buru. Tatapan malas dan lemas menuju ke arah mesjid dari balik garden jendela sambil jongkok dan menunduk.
Oh sebagian orang mulai berbondong-bondong berangkat menuju masjid. Itu mereka yang sedikit malas. Karena kalau yang rajin sudah dari jam setengah dua belasan. Dan yang rajin itu memang sudah ada tapi dalam sekala kecil. Sudah pada duduk di masjid. Mungkin dzikir. Mungkin juga ngantuk.
Malu-malu saya keluar perlahan-lahan. Menuju toilet di pinggir kiri kos. dekat dengan masjid pula. Untuk berwudlu. Saja. Tanpa mandi. Kenapa?karena takut guyuran airnya menggangu orang yang sedang dzkir.
Tidak. Tidak berangkat saya langsung ke mesjid. Karena tau saya kalau celana ini yang sedang dipakai adalah tidak sah menurut aturan syariah jika dipakai shalat. Dikampus dikos, ditrotoar, diangkot, dan dimotor teman yang jarang di cuci. Itu sudah tiga bulan belum saya cuci. Akibatnya, warna hitam jeans itu berubah setelah mendapatkan campuran warna cokelat dari debu-debu jalanan. Itu karenanya saya yakin jeans yang selama ini menemani saya kemana-mana sudah tidak suci lagi. Dan aturan mengharuskan saya untuk mensucikan dulu itu celana jika saya tetap ingin shalat dengan celana ini. Saya tidak mau berpikir shalat jum'at dengan celana basah. Maka dari itu, saya harus pinjam. Tapi orang yang punya kamar yang saya tiduri sudah berangkat. Maka saya langsung cari saja sarungnya, izin minjamnya nanti.
Ooh...sarung ternyata kamu ada di samping lemari. Tergeletak dibawah dengan lipatan yang tak jelas bentuknya.
"Untuk jadwal khatib kali ini...."
Ooh... suaramu wahai takmir mesjid ! lihatlah saya dibuat terburu-buru. Mengambilnya saya langsung ke sarung itu. Semakin terburu-buru juga saya melipatnya dengan lipatan yang nggak jelas juga diatas perut. Lalu berangkatlah dengan setengah berlari. Itu semua saya lakukan karena suaramu tadi wahai takmir mesjid !, akan mengakibatkan khotib berdiri lalu berkhutbah.
Ini saya sudah berada dihalaman mesjid, setelah kakinya melepas kedua sandal. Sudah banyak orang-orang duduk-duduk di halaman ini. Sepertinya banyak yang lebih nyaman diluar daripada harus di dalam mesjid. Padahal isi dalam mesjid masih ada yang banyak kosongnya. Tapi saya tidak. Untuk kali ini. Saya ingin sekali khusyu. Aminn. Sekalian biar bisa mendengar dan melihat dengan jelas sang khatib berkhutbah.
Ini saya yang kakinya sudah di dalam. Badan dan hatinya juga begitu. Saya ambil posisi di tengah ruangan mesjid, karena itu nampak masih kosong. Hanya ada segelintir orang disana. Tiga baris didepan sudah terisi begitu pula dua baris paling belakang.
Shalatlah saya. Itu yang dianjurkan ketika masuk mesjid. Namanya shalat tahiyyatulmasjid. Dua raka'at lamanya. Sendiri saya melakukannya di tengah masjid itu. Sepertinya orang lain sudah. Pelan-pelan saya melakukannya. Seperti khusyu sekali sepertinya. Mengangkat kedua tangan, membaca kalimat takbir dan menaruhnya diatas dada. Lalu turun ruku setelah membaca Al-fatihah dan surat An-nas.
Dari kepala sampai perut turun kebawah. Saya coba luruskan selurus-lurusnya sampai mencapai kira-kira 90 derajat. Kedua telapak tangan ditempel ketat di bagian lutut kana kiri. Ini dia; saya sedang ruku. Khusyu sekali rasanya.
Tapi, rasa khusyu itu tidak berjalan cukup lama. Sebentar, apalagi memang kalau ruku jarang ada yang lama. Bukan, ini bukan karena durasi ruku yang memang sedikit. Bahkan ini lebih cepat dari seharusnya.
Kala itu, tiba-tiba angin berhembus terasa lebih kencang dibanding sebelum ruku. Rasanya semakin menembus ke dalam. Semakin menembus, semakin dingin terasa. Buyar sudah kekhusyuan saya. Akhirnya, saya coba mencari tahu; kenapa ini bisa terjadi? kenapa pas ruku hembusannya makin kencang? dan setelah di rasa- rasa ternyata sumber angin datangnya dari belakang. Ya dari bagian pantat. Ohh tuhan adapakah dengan ini semua? Apakah ada angin topan?tornado?atau puting beliung?
Tidak, itu tidak mungkin, kalau betul terjadi, pasti orang-orang di mesjid bakal heboh. apalagi tornado,itu sepertinya hanya diperuntukan untuk Amerika. Debu-debu pasti akan banyak yang masuk jika ada puting beliung. Makanya saya yakin itu bukan.
Saya akhirnya kembali memikirikan rasa dingin ini. Semakin lama semakin dingin. Lumayan menusuk. Bahkan sampai bagian depan. Ada apa ini? Penasaran. Perlahan tangan saya bergerak kebelakang. Ternyata dia sedikit malu-malu. Untung ada kamu, dingin. Malu itu hilang meski sedikit.
Tangan saya mulai bergerak kebelakang. Sedang yang kiri tetap dalam posisi ruku. Bagian bokong yang mulai si kanan raba. Kanan berfirasat bagian inilah sumber dari kedinginan itu. Dari bagian atas si kanan memulai. Tidak ada yang aneh, sarung kusut dengan ganjelan celana dalam di dalamnya. Si kanan mulai penasaran. Apa sebenarnya yang terjadi? Turunlah dia kebagian bawah sedikit. Perlahan-lahan. Terus kebawah setelah memastikan bahwa bagian bokong tidak terjadi apa-apa. Ketika telapak si kanan perlahan-lahan kebawah, kira-kira 5 cm dari bagian bokong, si kanan terperosok.
"ooh Tuhan adaapakah ini?"
Ternyata, sarung ini bolong. tepat di bawah bokong. Inilah sumber rasa dingin itu. Cukup besar. Telapak tangan saya pun masuk ke bolong itu.
"Kenapa ini tidak terdeteksi sebelumnya?"
"Ini-kah akibat dari terburu-buru?"
Sudah-lah, itu saya diskusikan nanti. bersama teman-teman, dan tentunya teman pemilik sarung.
Sekarang, inilah yang saya harus diprioritaskan: keluar dari mesjid karena shalat saya-pun sudah tidak sah.
Hati saya berkecamuk; jemaah mesjid yang dibelakang saya pasti menertawakan bolong sarung ini. Kecuali mereka yang tidur. Tapi pura-pura tidak tahu, shalat saya juga sudah tidak sah.
"Langsung keluar atau lanjutkan shalat yang baru 1 rakaat?langsung keluar atau lanjutkan?langsung keluar atau lanjutkan?"
Entah dapat pilihan jawaban dari mana, tiba-tiba saya memilih opsi untuk keluar. Langsung. tanpa meneruskan shalat. Perlahan berdiri dari ruku. Berbalik arah dengan senyum dihati. Malu yang terburu-buru saya melangkah. Tanpa melirik orang-orang dibelakang yang saya lalui.
Ampuni hambamu ini Tuhan, menyembahmu tidak sampai akhir.
Ooh...sarung ternyata kamu ada di samping lemari. Tergeletak dibawah dengan lipatan yang tak jelas bentuknya.
"Untuk jadwal khatib kali ini...."
Ooh... suaramu wahai takmir mesjid ! lihatlah saya dibuat terburu-buru. Mengambilnya saya langsung ke sarung itu. Semakin terburu-buru juga saya melipatnya dengan lipatan yang nggak jelas juga diatas perut. Lalu berangkatlah dengan setengah berlari. Itu semua saya lakukan karena suaramu tadi wahai takmir mesjid !, akan mengakibatkan khotib berdiri lalu berkhutbah.
Ini saya sudah berada dihalaman mesjid, setelah kakinya melepas kedua sandal. Sudah banyak orang-orang duduk-duduk di halaman ini. Sepertinya banyak yang lebih nyaman diluar daripada harus di dalam mesjid. Padahal isi dalam mesjid masih ada yang banyak kosongnya. Tapi saya tidak. Untuk kali ini. Saya ingin sekali khusyu. Aminn. Sekalian biar bisa mendengar dan melihat dengan jelas sang khatib berkhutbah.
Ini saya yang kakinya sudah di dalam. Badan dan hatinya juga begitu. Saya ambil posisi di tengah ruangan mesjid, karena itu nampak masih kosong. Hanya ada segelintir orang disana. Tiga baris didepan sudah terisi begitu pula dua baris paling belakang.
Shalatlah saya. Itu yang dianjurkan ketika masuk mesjid. Namanya shalat tahiyyatulmasjid. Dua raka'at lamanya. Sendiri saya melakukannya di tengah masjid itu. Sepertinya orang lain sudah. Pelan-pelan saya melakukannya. Seperti khusyu sekali sepertinya. Mengangkat kedua tangan, membaca kalimat takbir dan menaruhnya diatas dada. Lalu turun ruku setelah membaca Al-fatihah dan surat An-nas.
Dari kepala sampai perut turun kebawah. Saya coba luruskan selurus-lurusnya sampai mencapai kira-kira 90 derajat. Kedua telapak tangan ditempel ketat di bagian lutut kana kiri. Ini dia; saya sedang ruku. Khusyu sekali rasanya.
Tapi, rasa khusyu itu tidak berjalan cukup lama. Sebentar, apalagi memang kalau ruku jarang ada yang lama. Bukan, ini bukan karena durasi ruku yang memang sedikit. Bahkan ini lebih cepat dari seharusnya.
Kala itu, tiba-tiba angin berhembus terasa lebih kencang dibanding sebelum ruku. Rasanya semakin menembus ke dalam. Semakin menembus, semakin dingin terasa. Buyar sudah kekhusyuan saya. Akhirnya, saya coba mencari tahu; kenapa ini bisa terjadi? kenapa pas ruku hembusannya makin kencang? dan setelah di rasa- rasa ternyata sumber angin datangnya dari belakang. Ya dari bagian pantat. Ohh tuhan adapakah dengan ini semua? Apakah ada angin topan?tornado?atau puting beliung?
Tidak, itu tidak mungkin, kalau betul terjadi, pasti orang-orang di mesjid bakal heboh. apalagi tornado,itu sepertinya hanya diperuntukan untuk Amerika. Debu-debu pasti akan banyak yang masuk jika ada puting beliung. Makanya saya yakin itu bukan.
Saya akhirnya kembali memikirikan rasa dingin ini. Semakin lama semakin dingin. Lumayan menusuk. Bahkan sampai bagian depan. Ada apa ini? Penasaran. Perlahan tangan saya bergerak kebelakang. Ternyata dia sedikit malu-malu. Untung ada kamu, dingin. Malu itu hilang meski sedikit.
Tangan saya mulai bergerak kebelakang. Sedang yang kiri tetap dalam posisi ruku. Bagian bokong yang mulai si kanan raba. Kanan berfirasat bagian inilah sumber dari kedinginan itu. Dari bagian atas si kanan memulai. Tidak ada yang aneh, sarung kusut dengan ganjelan celana dalam di dalamnya. Si kanan mulai penasaran. Apa sebenarnya yang terjadi? Turunlah dia kebagian bawah sedikit. Perlahan-lahan. Terus kebawah setelah memastikan bahwa bagian bokong tidak terjadi apa-apa. Ketika telapak si kanan perlahan-lahan kebawah, kira-kira 5 cm dari bagian bokong, si kanan terperosok.
"ooh Tuhan adaapakah ini?"
Ternyata, sarung ini bolong. tepat di bawah bokong. Inilah sumber rasa dingin itu. Cukup besar. Telapak tangan saya pun masuk ke bolong itu.
"Kenapa ini tidak terdeteksi sebelumnya?"
"Ini-kah akibat dari terburu-buru?"
Sudah-lah, itu saya diskusikan nanti. bersama teman-teman, dan tentunya teman pemilik sarung.
Sekarang, inilah yang saya harus diprioritaskan: keluar dari mesjid karena shalat saya-pun sudah tidak sah.
Hati saya berkecamuk; jemaah mesjid yang dibelakang saya pasti menertawakan bolong sarung ini. Kecuali mereka yang tidur. Tapi pura-pura tidak tahu, shalat saya juga sudah tidak sah.
"Langsung keluar atau lanjutkan shalat yang baru 1 rakaat?langsung keluar atau lanjutkan?langsung keluar atau lanjutkan?"
Entah dapat pilihan jawaban dari mana, tiba-tiba saya memilih opsi untuk keluar. Langsung. tanpa meneruskan shalat. Perlahan berdiri dari ruku. Berbalik arah dengan senyum dihati. Malu yang terburu-buru saya melangkah. Tanpa melirik orang-orang dibelakang yang saya lalui.
Ampuni hambamu ini Tuhan, menyembahmu tidak sampai akhir.

aku belum pernah lihat sarung bolongmu itu mang :p
BalasHapushaha,,jangan mba
BalasHapushihihiihi.pasti sudah dipegang-pegang sama sundel bolongnya ya..habisnya gantheng sih...pantesan kok senyum2 habis pulang semalem..merasa puas ya..bsk saya tambahin deh...
BalasHapus@anonim:hahha langsung batal donk jumatannya
BalasHapusAPA MANFAAT VIMAX PILLS UNTUK PRIA ?
BalasHapusBerdasarkan TESTIMONIAL dari Pengguna yang telah menggunakan VIMAX PILLS ada 7 MANFAAT :
MemperBESAR Ukuran dan PANJANGGGG Penis sampai dengan 8 cm (HASIL PERMANEN)
Meningkatkan KETAHANAN dan HASRAT SEKSUAL dalam Berhubungan Seks
EREKSI yang LEBIH PERKASA dan TAHAN LAMAAAA
Mencegah DISFUNGSI EREKSI dan Meningkatkan INTENSITAS ORGASME
Membuat Pasangan SEMAKIN LENGKET
LEBIH PERCAYA DIRI dan MACHO
Keharmonisan Rumah Tangga semakin TENTRAM
info dan pemesanan hubungi: (call / sms)
PIN BB 2B504AA8
PIN BB 329840B4
0821 3649 5554
085 747 266 780