Oleh: Aris Risnandar
(penulis bukanlah pengamat atau pakar)
Pemilihan umum atau pemilu tinggal beberapa minggu lagi. Tentunya, pesta demokrasi 5 tahunan ini perlu disambut dengan baik oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia demi tercapainya kemajuan bangsa. Namun, alih-alih untuk menuju hal itu, pemilu kali ini ternyata banyak menuai berbagai kendala. Salah satunya adalah kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat.
Permasalahan sosialisasi ini sangatlah urgen demi tercapainya pengetahuan masyarakat terhadap prosesi pemilu. Apalagi, pemilu kali memiliki perbedaan yang cukup jauh dibandingkan dengan pemilu sebelumnya. Perbedaan ini misalnya terlihat dalam cara pemilihan. Jika ditahun sebelumnya cara pemilihan dilakukan dengan cara mencoblos, maka dipemilu sekarang cara itu diganti dengan cara mencontreng.
Salah satu langkah yang bisa diambil untuk mensosialisasikan pemilu kepada masyarakat.adalah dengan mengoptimalkan peran media massa. Selama ini, media massa lebih banyak mengetengahkan kampanye politik berupa ajakan kepada masyarakat untuk memilih partai yang muncul di media massa tersebut. Tiap hari baik di televisi, surat kabar, radio atau bahkan internet masyarakat terus dicekoki oleh kampanye-kampanye partai politik. Hal ini bukan hanya terjadi dalam bentuk iklan, melainkan sudah masuk dalam beberpa program acara yang bersifat kampanye.
Kondisi diatas jauh terbalik dengan informasi yang berisi tentang sosialisasi pemilu, mulai dari jadwal pemilu, penggunaan surat suara atau prosedur pemilu lainnya yang harus diikuti oleh para peserta pemilih. Hal ini tentunya akan berpengaruh pada kelancaran pemilu mendatang. Padahal selama ini masyarakat masih terpengaruh dengan paradigma lama dalam melakukan proses pemilu. Situasi ini bisa terlihat dari hasil simulasi pemilu yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dibeberapa kota beberapa bulan yang lalu. Para pemilih masih kebingungan dengan cara pemilihan yang dilakukan dengan cara mencontreng di mana sebelumnya pemilihan dilakukan dengan cara mencoblos.
Jika masyarakat masih banyak yang salah dalam proses pemilihan, maka sudah barang tentu banyak suara yang akan dinilai tidak sah. Hal ini tentunya akan sangat mengecewakan bukan hanya terhadap partai politik yang berkompetisi melainkan juga terhadap proses demokrasi di Indonesia. Aspirasi masyarakat untuk kemajuan Indonesiapun hilang gara-gara kesalahan prosedur dalam mengikuti pemilu.
Dalam konteks pemilu, media massa merupakan jembatan yang menghubungkan antara partai politik dengan masyarakat. Partai politik tidak bisa berbuat banyak tanpa bantuan media. Begitupula dengan masyarakat, mereka tidak akan tahu informasi tentang partai politik tanpa adanya pemberitaan dari media massa. Oleh sebab itu, selayaknya media massa tidak hanya memberitakan partai politik yang sifanya berupa kampanye saja, melainkan informasi-informasi terkait dengan kebutuhan masyarakat mengenai pemilu, misalnya iklan yang berisi tentang tata cara pemilu yang ahrus diikuti oleh masyarakat.
Selain peran dari media massa, sosialisasi ini juga seharusnya dilakukan oleh partai politik itu sendiri. Namun, yang sering terlihat sekarang ini adalah partai politik yang lebih mengutamakan kampanye disana-sini demi meraup suara yang sebanyak-banyaknya. Padahal, partai politik memiliki tanggung jawab dalam menyelenggarakan pendidikan politik seperti sosialisasi pemilu.
Tentunya kita semua berharap pemilu kali ini berjalan dengan lancar untuk kemajuan Indonesia kedepan.
0 komentar:
Posting Komentar