Polandia. Mendengar kata ini, orang akan tertuju pada sebuah negara. Bendera dan lambangnya hampir sama dengan Indonesia. Perpaduan merah dan putih ada di bendera. Putih dan merah untuk Polandia. Elang putih mirip garuda juga tersemat sebagai lambang resmi negara. Meski lambang hampir sama, secara geografis, kedua negara ini cukup berjauhan. Polandia di Eropa. Indonesia di Asia.
Kedua negara ini sedang mengalami hiruk-pikuk tersendiri di dalamnya. Lebih spesifik lagi, hiruk-pikuk terletak dalam aspek olahraga. Indonesia sedang di ramaikan oleh proyek pembangunan yang akan dijadikan tempat pelatihan, pendidikan serta sekolah olahraga. Semua jenis olahraga rencananya akan di pusatkan disini. Ya, disinilah tempat yang di sebut Hambalang atau wisma atlit Hambalang atau Bukit Hambalang. Untuk penyebutan terakhir, saya pernah baca dari sebuah majalah mingguan, katanya untuk menyaingi Malaysia yang telah leih dulu mempunyai pusat olahraga dengan nama bukit Jalil.
Hiruk-pikuk yang terjadi soal Hambalang ini bukan karena ada perhelatan olahraga, entah pelatihan atau kompetisi, akan tetapi proyek yang di bangun diatas tanah sekitar 32 hektar ini, sekitar 1000 meter perseginya amblas. Tapi ini belum seberapa. Ada yang lebih ambalas lagi. Uang negara disini diperkiran di curi oleh beberapa orang yang terlibat dalam proyek ini. Dana yang diajukan Rp. 2,5 triliun (yang saya baca dan dengar dari pelbagai media) dinilai banyak pihak penuh dengan ketidakjelasan. Bahkan menurut M. Nazaruddin sering mengungkapkan di media bahwa dana itu mengalir ke kongres partai Demokrat di Bandung.
Itu hiruk-pikuk yang terjadi di Indonesia; kental dengan unsur politik (tidak sehat) dan penuh dengan kejahatan korupsi. Berbeda dengan hiruk-pikuk di Polandia. Dunia sekarang sedang tertuju kepadanya. Jutaan pasang mata memelototinya. Tak peduli waktu. Ya, disanalah kompetisi sepak bola antar negara-negara Eropa di gelar.
Jika proyek olahraga (Hambalang) diperkiran menelan banyak kerugian untuk negara, sebaliknya pagelaran kompetisi Europa malah meningkatkan pendapatan untuk warganya dan tentu untuk negaranya. Apalagi pagelaran ini berlangsung selama hampir satu bulan. Hunian hotel melonjak tinggi. Kuliner disantap jutaan fans dari negara yang bertanding bahkan yang tidak. Transportasi juga begitu. Singkatnya, bagi Polandia, ini banyak mengundang berkah. Berbeda dengan Hambalang yang sudah menelan musibah.
"Ooh...kenapa tidak ada Polandia disana?"
Tiba-tiba Donna menghela nafas. Mengerutkan dahinya. Bersandar lunglai dengan kaki terselonjor bebas.
"Ini sungguh sangat merugikan. Duit ludes".
Sepertinya dia memang sudah muak dengan itu. Umpatan-nya terus menganga. Meski dia sedikit memaksa untuk pasrah. Dia terus bercerita bagaimana itu terjadi. Mendengar disampingnya; seseorang yang dianggap ibu olehnya juga oleh teman-temannya. Mendengar di depannya; seorang teman yang ia bawa ke tempat orang yang di sampingnya. Juga ada saya. Juga ada penghuni rumah yang duduk disampingnya. Sesekali orang yang saya sebut terakhir ini mencoba menghibur dia.
"Rezeki bisa dicari lagi apalagi kamu masih muda, masih kuat gitu lho. hehe!"
"iya sih, tapi kan nggak mesti dapat. Apalagi kalau ada Polandia atau temannya".
"Ya kamu pinter-pinter aja Na dan hati-hati agar nggak terjadi lagi kejadian ini!"
"iya mba, pasti itu. Tapi yang aku sesalkan kenapa waktu itu nggak ada Polandia. Padahal deket lho dari tempatnya".
"Lha emang apa aja yang di bawa Na?"
"ya semuanya; dompet dan surat-surat, Hp, mike-up sama.... kondom. Hehehe"
"Hahahaha" semua tertawa.
Itu hiruk-pikuk yang terjadi di Indonesia; kental dengan unsur politik (tidak sehat) dan penuh dengan kejahatan korupsi. Berbeda dengan hiruk-pikuk di Polandia. Dunia sekarang sedang tertuju kepadanya. Jutaan pasang mata memelototinya. Tak peduli waktu. Ya, disanalah kompetisi sepak bola antar negara-negara Eropa di gelar.
Jika proyek olahraga (Hambalang) diperkiran menelan banyak kerugian untuk negara, sebaliknya pagelaran kompetisi Europa malah meningkatkan pendapatan untuk warganya dan tentu untuk negaranya. Apalagi pagelaran ini berlangsung selama hampir satu bulan. Hunian hotel melonjak tinggi. Kuliner disantap jutaan fans dari negara yang bertanding bahkan yang tidak. Transportasi juga begitu. Singkatnya, bagi Polandia, ini banyak mengundang berkah. Berbeda dengan Hambalang yang sudah menelan musibah.
"Ooh...kenapa tidak ada Polandia disana?"
Tiba-tiba Donna menghela nafas. Mengerutkan dahinya. Bersandar lunglai dengan kaki terselonjor bebas.
"Ini sungguh sangat merugikan. Duit ludes".
Sepertinya dia memang sudah muak dengan itu. Umpatan-nya terus menganga. Meski dia sedikit memaksa untuk pasrah. Dia terus bercerita bagaimana itu terjadi. Mendengar disampingnya; seseorang yang dianggap ibu olehnya juga oleh teman-temannya. Mendengar di depannya; seorang teman yang ia bawa ke tempat orang yang di sampingnya. Juga ada saya. Juga ada penghuni rumah yang duduk disampingnya. Sesekali orang yang saya sebut terakhir ini mencoba menghibur dia.
"Rezeki bisa dicari lagi apalagi kamu masih muda, masih kuat gitu lho. hehe!"
"iya sih, tapi kan nggak mesti dapat. Apalagi kalau ada Polandia atau temannya".
"Ya kamu pinter-pinter aja Na dan hati-hati agar nggak terjadi lagi kejadian ini!"
"iya mba, pasti itu. Tapi yang aku sesalkan kenapa waktu itu nggak ada Polandia. Padahal deket lho dari tempatnya".
"Lha emang apa aja yang di bawa Na?"
"ya semuanya; dompet dan surat-surat, Hp, mike-up sama.... kondom. Hehehe"
"Hahahaha" semua tertawa.
#SalamEmber
0 komentar:
Posting Komentar