Indonesia dikenal dengan masyarakatnya yang memiliki nilai-nilai kebudayaan yang luhur. Saling bergotong royong, ramah tamah serta memiliki rasa toleransi yang tinggi antar sesama. Namun, nilai-nilai tersebut sepertinya sudah hilang ketika munculnya berbagai konflik yang diwarnai dengan aksi kekerasan dimana-mana.
Kekerasaan merupakan perilaku seseorang atau kelompok yang lebih mengutamakan kekuatan fisik dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Hal ini sangat bertolak belakang dengan nilai luhur kebudayaan kita yang lebih mengutamakan nila-nilai kekeluargaan yang didasarkan pada rasionalitas yang bisa dipahami.
Bentuk kekerasan tidak mesti yang memiliki dampak kerusakan yang parah secara fisik atau kekerasaan yang dilakukan oleh sekian banyak orang. Akan tetapi konflik yang berujung kekerasan bisa juga terjadi dalam sekup yang lebih kecil seperti keluarga.
Apapun bentuknya konflik yang berujung kekerasan sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai kemanusiaan serta kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang kita.
Budaya kekerasan sepertinya sudah menjadi hal yang biasa bagi kita saat ini. Kondisi tersebut bisa kita lihat bagaimana tayangan-tayangan televisi menyuguhkan pemirsanya dengan berbagai macam kekerasan. Mereka seperti tanpa beban menyuguhkan bagaimana perang antar warga, tawuran antar pelajar atau bahakan kekerasan dalam rumah tangga.
Jika kondisi ini tetap dibiarkan, maka tidak mustahil bangsa kita akan menjadi bangsa yang kembali ke masa purbakala dulu. Siapa yang kuat dia yang berhak hidup (survival of the fites).
Usaha penanganan konflik yang seringkali terjadi akhir-akhir ini tentunya memerlukan kerjasama dari berbagai stack holder, termasuk dari pihak lembaga perguruan tinggi atau akademisi.
Sebagai lembaga pendidikan tertinggi, perguruan tinggi sudah selayaknya memiliki tanggung jawab sosial berupa pendampingan serta pengejewantahan nilai-nilai pendidikan dalam bermasyarakat. Selama ini, mereka terkesan “bungkam” terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat. Literature, wacana keilmuan atau bahkan hasil penelitian yang dilakukan oleh mereka hanya digunakan untuk kepentingan akademis semata bahkan kepentingan kapitalis.
Disatu sisi, pihak perguruan tinggi pun terjebak ke dalam perilaku manusia yang tidak terdidik seperti kasus kekerasan yang terjadi di IPDN beberapa tahun silam.
Lemabaga perguruan tinggi sudah seharusnya berbenah diri. Wacana yang dikembangkan, literature yang dikaji serta penelitian yang dilakukan harus mampu menyentuh serta mampu
0 komentar:
Posting Komentar