30 Sep 2010

Undangan Tidur

Kau pernah bertanya kepadaku: kapan kau akan kesini? Pertanyaan itu kau ajukan ketika kau dan temanmu ini bertemu disuatu hari disuatu kampus, yang sebenarnya antara kau dan temanmu ini sudah malas kekampus. Betulkan kau? Kalau temanmu ini begitu, tapi pasti kau juga begitu. Karena temanmu ini tau kau pernah ngambil tong sampah di sudut ruangan kampus untuk kau jadikan tong sampah dikosanmu. Enak banget dikau, tidak beli tong sampah. Tapi, kasihan banget dikau, karena kau ketahuan sama satpam. Jadi kau pasti malas ke kampus karena kau malu dan takut. (Hehehe piss ah kau yang ada disana!) akhirnya, kau selalu berharap: ya tuhan pindahkan satpam itu ke fakultas lain atau ke kampus lain. Tapi jangan dipecat saya masih kasihan.

Sory kawan kau tau sendiri saya ini seperti apa? Saya ini bak seorang selebritis. Bukan bak mandi yang ada dikamar mandi terus hingga bertahun-tahun. Hingga kau hancurkan rumahnya atau kau hanya perbaiki kamar mandinya saja. Baru bak mandimu bisa pindah ke ruang tamu.
Saya ini bak selebritis kawan bukan bak mandi itu. Dimana saya berdiri, disitu wartawan juga berdiri. Kemana saya pergi, kesitu juga wartawan pergi. Syuthing disini syuthing disana. Itu semua sama dengan yang terjadi dengan saya. Tepatnya hampir sama bohongnya ketika saya bilang. Saya masih jomblo, padahal saya….. saya jomblo. Bukan bukan yang ini. Itu mah bener. Bohongnya sama dengan yang ini deh; saya anaknya susilo bambang yudhoyono yang presiden itu. 
Bener saya kalau kesana kemari yang kaya selebritis itu sering banyak yang nanya. Begini pertanyaannya: eh kapan kamu bayar hutang saya?. Saya jawab dengan ringan dan senyuman juga sama juga kaya selebritis. Begini kira-kira: kapan-kapan ya!
Tapi, pertanyaan yang kau lontarkan sangat berbeda dengan kebanyakan teman yang lain. Dan pertanyaanmu sangat enak. Enak sekali. Kau tidak bertanya mengenai hutang. Itu yang membuat saya senang. Bukan aku lupa dan tidak memikirkannya. Aku ingat. Sangat ingat, karena hutang-hutang itu sudah saya catatkan di Hp, lalu saya save, lalu saya buatkan disana tanda alarm. Makanya kalau ada teman-teman yang bertanya masalah hutang sebenarnya itu info yang kurang up date karena satu minggu 4x alarm hutang itu akan nyala.
Setelah hari dimana kita berdua saling bersua (tapi tidak dengan tatapan saling mencintai) maaf kan saya kawan saya belum bisa memenuhi undanganmu. Saya masih ada sedikit urusan dikampus. Sebenarnya saya juga kurang tahu pentingan mana antara kampus dan undanganmu.
Hari itu saya ke kampus. Tapi bukan untuk kuliah. Saya daftar beasiswa. Kerenkan? Kali ini dari depag. Dulu saya dapat selama tiga semester dari PT Gudang Garam, lumayan uangnya buat SPP. SPP kan harus dibayar. Nah, biar lumayan lagi makanya saya daftar ke depag. Tapi prosedurnya sangat berbeda. Kali ini saya harus dapat tanda tangan kang Nana tukang ojek di kampung saya yang menjabat juga ketua RT 01. Saya juga harus dapat tanda tangan kang Eri yang menjadi ketua Rw 02 dikampung saya juga. Saya juga harus mendapatkan tanda tangan kepala desa yang pas pemilihan beda satu suara dengan lawannya. Saya juga harus dapat tanda tangan camat dari kecamatan saya. Ya itulah beasiswanya orang miskin. Harus penuh dengan tanda tangan. 
saya dapat akhirnya tanda tangan mereka. Tanpa sogokan sedikitpun. Karena saya juga malas untuk memberikannya. Itu sudah kewajiban mereka melayani saya. Saya yang telah memberikannya jabatan.

0 komentar:

Posting Komentar