Ini saya. Saya yang baru bangun dari tidur lima jam yang lalu. Ini saya. Saya yang terduduk terdiam karena baru tidur lima jam yang lalu. Terduduk diatas kasur lantai yang jadi tempat tidur malam tadi. Kasur lantai yang sudah hilang warna aslinya. Dulu, ngga tau siapa yang beli, sikasur itu warnanya merah kaya jambu air dibungkus pakai plastic. Sekarang si kasur itu warnanya sudah merah kehitam-hitaman. Kenapa demikian? Karena kasur ini belum pernah dicuci, kalau habis dipakai tidur belum pernah dilipat dan dibereskan dan seringkali diinjak-injak oleh berbagai penghuni kontrakan. Ya, ini memang kasur multifungsi selain untuk tidur, kasur ini bisa juga dipakai untuk kesed. Posisinya pun ditaruh diberbagai tempat. Pernah dikamar depan, pernah dikamar belakang, pernah dikamar tengah dan sering juga berada diposisi ruang tengah kontrakan untuk dipakai rame-rame pas nonton tv atau maen kartu remi. Wahai kasur lantai merah jambu air yang sekarang sudah berubah warna, sungguh bermanfaat sekali dirimu!!!!.
Itu Omen, mahasiswa tingkat atas yang juga penghuni kontrakan. Dia duduk di ruang tengah rumah. Posisinya lurus terbaring. Matanya masih terpejam. Karena dia masih tertidur. Baju hitamnya terangkat menggulung sampai ke dada. Udelnya pun terlihat kemana-mana. Bawahnya dia bersarung.
Itu sugih. Dia dikamar tengah. Kamarnya yang cukup berantakan. Ada laptop yang masih menyala disana. Program winamnya pun belum mati. Masih ada peterpan yang lagi konser di panggung acer. Gila! Kuat juga itu bang aril sama temen-temennya. Konser sampai pagi subuh gini. Apa ngga habis tu suaranya?. Disana juga ada computer. Tapi CPUnya dibawa pergi sama si Oenk tadi malam, katanya mau digadaikan. Dia lagi butuh. Butuh duit dari penggadaian.Tapi keybordnya masih ada. Stabilidzernya masih. Speakernya masih. Mousenya juga masih. Monitornya juga masih. Ada helm yang bertulisakan Persib Bandung. Ada kresek bekas gorengan. Ada keresek bekas es susu. Sama sedotannya juga. Ada kertas-kertas yang berserakan karena habis nyoba printer. Terakhir deh barang yang saya sebutkan yang ada dikamar Sugih, ada lemari, tapi bajunya pada menumpuk diatas lemarinya. Berantakan. Cukup berantakan kamar mahasiwa termuda yang ada di kontrakan ini. (piss ah Gih!!!).
Dia masih sama tertidur. Dihadapan laptop yang lagi ada bang Ariel konser di winampnya. Konser album sebuah nama sebuah cerita. Badannya bugil tanpa baju. Tapi kalau bawahnya ngga dong. Dia masih memakai jeans hitamnya. Posisinya memiringkan badan kearah kanan yang ada poter besar bergambar Soekarno yang lagi asyik duduk. Tangannya menyatu antara kanan dan kiri di depan mukanya. Kedua lututnya terangkat tepat di bawah dadanya. Kalau dpikir-pikir si Sugih ini kaya orang yang lagi dikeroyok masa, sambil bilang ampun! Ampun! Ampun!.
Itu Uduy. Itu Hendy. Dua-duanya ada dikamar pojok. Masing-masing pake kasur. Kasur yang sudah keluar busanya. Kasur yang sering gonta-ganti sang tukang tidur. Kasur yang sering diinjak-injak juga.
Lalu aku berdiri. Setelah berdiri berarti aku tidak duduk lagi. Aku keluar kamar. Menuju ruang tengah. Di ruang tengah tv masih menyala. Remote controlnya ada disamping kiri si Omen. Kebiasaan! Tv ini jarang mati walau tanpa penonton.
Sebenarnya bangun tidur tidak ada niatan sama sekali untuk nonton tv. Tapi mau gimana lagi tvnya masih nyala je. Ya akhirnya tertonton juga deh. Kala itu (itu saya nulis ngga double “L” lho ya!) ada acara pengajian di itu tv. Saya tidak mau memberi tahu programnya apa dan di channel mana. Saya kan bukan bagian publikasi program itu. Saya hanya penonton. Penonton yang kebetulan menonton program itu.
Itu yang sekarang ada di tv adalah pengajian. Pengajian. Dipandu oleh oleh satu laki-laki dan satu ustadzah. Jamaahnya ibu-ibu. Mereka Nampak seragam dengan pakaian seragam. Ada yang pakai seragam putih, mulai dari kerudung sampai kebawah (tapi ngga tau kalau sendalnya, karena cameramen ngga menyoroti kaki-kaki jemaah itu). Ada yang pakai pakaian yang dipakai dengan seragam merah. Dari kerudung juga samapai ke bawah, tapi nggak tau kalau sandalnya. Jadi terpikir deh saya gara-gara melihat itu. Terfikir sama ibu saya dan mungkin ibu-ibu lainnya. Bisa ngga ya ibu saya menghadiri pengajian seperti ini? Seingat saya ibu saya kan ngga punya baju merah yang kaya gitu, apalagi kerudungnya. Sebenarnya ada sih baju merah yang pernah saya lihat dari ibu. Tapi itu biasa dia pakai untuk kesawah. Bukan ke pengajian di masjid kampung saya. Tapi sudahlah, lagian juga ibu saya mah ngga pernah ke Jakarta. Itu kan pengajian yang di tv yang jemaahnya pakai seragam ada di Jakarta. Bukan dikampung saya yang kalau pengajian pakaiannya bebas yang penting sopan.
Akhirnya saya ganti itu program. Diganti sama saya dengan program berita. Saya pindah ke channel lain. Saya tambah volumenya biar temen yang pada tidur itu mendengarkan berita juga.
Setelah itu, saya biarkan tv tanpa penonton. Saya pergi keruang belakang. Dari ruang tengah saya lewati pintu lalu belok kanan. Lalu belok kiri. Lalu saya masuk ke WC lalu saya kunci dong itu pintu WC. Kenapa dikunci? Ada aja. Saya ngga perlu ceritakan ngapain saja saya di itu WC.
Ini saya. Saya yang sudah keluar dari WC. Saya ngga perlu ceritakan ngapain saja saya tadi di WC. Yang jelas setelah keluar saya sudah basah. Muka saya, tangan saya juga kaki saya. Lalu saya masuk kamar lagi. Saya ganti ini baju. Saya ambil sejadah. Lalu saya solat. Solat subuh. Dua rokaat.
Hari ini Jogja cukup cerah. Cerah karena ada matahari yang mulai terbit. Coba kalau tidak ada matahari. Mungkin nggak akan seperti ini. Maka patutlah saya bersyukur kepada tuhan yang menciptakan matahari.
Hari ini kontrakan cukup kotor. Dan hari-hari sebelumnya juga sering terlihat kotor. Kartu remi berserakan diruang tengah. Asbak rokok berjatuhan. Bungkus rokok yang dijadikan asbak juga berjatuahan. Bungkus nasi juga. Kantong kreseknya juga. Bekas plastic es teh dan es susu dan es kopi juga. Semuanya berserakan di ruang tengah kontrakan. Pusing saya melihatnya. Padahal, saya berharap bangun pagi kali ini bertaburan rasa segar. Tapi tidak masalah. Saya juga pengen mendapat pahala wahai tuhan. Maka saya bersihkan itu sampah yang berserakan di ruang tengah kontrakan. Semuanya saya bersihkan. Kecuali si Omen yang masih tidur di ruang tengah ini. Saya tidak mau membersihkan dia dan membuangnya ke tong sampah. Karena dia sedang ditunggu-tunggu dan diharapkan kedatangannya. Oleh orang tuanya di rumahnya nan jauh disana. Oleh keluarganya. Oleh pacarnya. Atau oleh masyarakatnya. Bahkan oleh negeri ini. Aminnn.
Sampah-sampah itu sudah terkumpul. Saya masukan ke tempat sampah didepan kontrakan. Tempat sampah yang dibangun dipinggir jalan berukuran 2x2 meter persegi. Diatasnya ditutup oleh seng sebagian. Itu tempat sampah khusus buat warga RW 13. Karena di t empat sampah itu tertulis RW 13. Rw lain pun begitu.
Sekarang, bersihlah kontrakan saya. Kontrakan teman-teman juga. Omen sudah bangun yang ditandai dengan munculnya berita hasil rekomendasi tim 8 dalam kasus Chandra hamzah dan bibit samat riyanto. Uduy juga terlihat sudah bangun. Hanya sugih dan hendy yang masih terlihat enak dengan mimpi-mimpinya. Saya tidak tau mimpinya sama atau tidak.
Ternyata sampah-sampah yang saya buang tadi belum cukup untuk membersihkan kontrakan. Ada begitu banyak tumpukan kertas yang berserakan diruang belakang. Ini kerja tambahan lagi buat saya.
Saya bereskan lagi itu tumpukan kertas yang berserakan. Ada bekas makalah, ada bekas proposal, ada buku panduan mata kuliah, ada KRS dan ada banyak lagi. Saya bersihkan itu semua.
Uduy terlihat berangkat kuliah. Omen memanaskan motor. Sepertinya dia mau berangkat ke tempat saudaranya. Biasanya memang dia sering kesana. Apalagi katanya saudara dia yang bernama Dudu itu minta bantuannya untuk beres beres tempatnya. Sepertinya Hendi dan Sugih sudah terbangun. Itu saya lihat hendi dan sugih yang silih berganti masuk toilet.
Saya terus membereskan kertas yang berserakan ini. Saya pilih. Dan saya juga pilah. Mana yang masih dipakai dan mana yang tidak. Saya bereskan. Mau yang masih dipakai, atau tidak. Yang tidak dipakai untuk apa? Ada ajah nanti saya kasih tau.
Sudah jam 9. Capek rasanya membersihkan yang harus dibersihkan hari ini. Saya rehat sejenak. Tidur-tiduran diatas lantai yang telah saya bersihkan tadi. Enak rasanya ini hari. Keringat yang tadi bercucuran mulai hilang. Ini saya rehat sambil tidur-tiduran sambil nonton tv juga. Nonton tiga program gossip di tiga channel tv yang bebeda. Saya pindah-pindah dari gossip satu ke gossip lainnya dengan remote yang ada ditangan kanan saya. Sesekali saya pindahkan ke program musik.
Tak lama kemudian Omen datang.
“ Gosip yo cah?” itu Omen menanggapi tontonan saya dengan bahasa jawa berlogat sunda. Sambil naruh helmnya di pinggir pintu kamar pojok.
“ laiyo” itu saya pake jawa juga. Dengan logat sunda juga.
“ men ono acara ra?” itu saya nanya sama Omen masih dengan bahasa jawa dan logat sunda juga.
“ ora. arep ngopoe cah?” omen balik Tanya.
“ iki ono barang wis ta rapike. Nah rencanaku arep ta dol. Koe iso ra nganter aku?” saya minta dianter sama Omen untuk jual kertas-kertas yang tadi saya tadi bereskan. Itu kan pernyataan saya artinya kurang lebih begini; ini ada barang sudah saya rapihkan. Nah, rencana saya mau dijual. Kamu bisa nganter saya tidak?
“ ooo gitu emang barang apaan. Ya boleh saja. Apalagi menghasilkan heheh” begitu tanggapan Omen.
“oke gampanglah itu, sekarang mah kita bawa dulu barangnya kesana” ajak saya.
Saya dan Omen bergegas keruang belakang. Kertas yang sudah saya kemas langsung di bawa keluar oleh kami berdua. Ada juga boto-botol minuman keras dari kosan temanku.
Ngeng…..ngeng….ngeng….kami pun meluncur ketempat tujuan. Ketempat yang menerima barang bekas. Tepatnya tukang rongsokan. Hanya 10 menit kurang kami sudah sampai.
Kami turunkan itu barang. Kertas sebanyak 2,5 kardus minuman gelas ditambah 10 botol bekas minuman keras. Kami menuju penjaga yang ada didepan timbangan.
“ mas mau jual nih?” itu basa basi saya
“ mau langsung dikilo semua atau di pisahkan dulu?” Tanya si mas yang jaga itu timbangan.
Saya bingung. Saya lirik Omen. Dia Cuma menggelengkan kepalanya. Itu tandanya dia juga tidak tau. Saya bertanya lagi ke itu petugas timbangan.
“ooo ni ngga sama ya mas?” Tanya saya yang masih bingung.
“ ya itu kan kertasnya beda-beda. Ada yang putih, buram dan kertas kertas seperti buku dan pamphlet. Nah itu kan harganya beda-beda mas!” jelas dia sambil menunjuk tumpukan kertas yang sudah saya ikat sama tali.
“ooo berarti harganya juga beda-beda gitu ya mas?” lanjut saya.
“ya mas. Nah, kertas putih, putih doing. Kalau yang buram satukan saja sama buku dan kertas yang lainnya. Nah kalau botol ya beda sendiri.” Jelas si masnya.
Saya dan Omen membuka lagi talinya. Kami memisahkan kertas-kertas itu sesuai penjelasan si masnya. Ketika kami memisahkan kertas-kertas itu, ada selembar kertas yang bikin kami kaget. Kaget sekaligus membuat kami tertawa. Kertas itu adalah selembar ijasah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) atas nama Taufik As’ad yang terselip dalam salah satu bekas makalah. Dia adalah teman saya satu daerah. Baru dua minggu yang lalu dia diwisuda sebagai mahasiswa D3 ilmu perpustakaan. Orangnya sudah ditangerang untuk ngasih surat-surat lamaran ke perusahaan disana.
Saya merasa berdosa. Bagaimana tidak, saya hampir saja menghilangkan perjalanan sejarah seseorang. Tiga tahun teman saya ini berusaha mendapatkan selembar kertas yang menyatakan bahwa dia telah merampungkan pendidikannya di tingkat SLTA. Pahit ketika dia di hukum push up gara-gara ketahuan bolos sekolah. Manis ketika dia diterima cintanya oleh adik kelas. Sedih ketika dia dapat nilai merah dirapotnya.
Hari ini saya hampir saja menjual ijasahnya. Padahal kalau dijual ditempat rongsokan ini hasilnya tidak akan mampu untuk membeli satu permenpun yang harganya 100 rupiah. Padahal lagi, bekal dia satu hari untuk berangkat sekolahpun tidak cukup hanya dengan satu kilo ijasah. Apalagi biaya sekolahnya. Duh maafkan saya mas taufik.
Akhirnya, saya menarik kembali ijasah ini dari timbangan. Dan membawanya kembali kekontrakan. Dan suatu saat saya akan mengirimkannya ke mas Taufik lewat kantor pos. Semoga ijasah yang hampir hilang ini bisa diterima diberbagai perusahaan.
0 komentar:
Posting Komentar