28 Des 2009

Aku Dengan Dirinya

Lelah rasanya hati ini. Sudah sekian bulan hari-hariku dihabiskan untuk hayalan-hayalan hampa. Tanpa kusadari ternyata aku telah terlalut dalam kemapanan semu. Kemapanan yang berada dalam lingkar kemiskinan. Kemapanan yang hanya dalam angan-angan.
Sebelumnya aku bertekad untuk tidak seperti ini. Aku ingin mendobrak tembok-tembok besar yang ada di kota ini. Tidak peduli aku harus memakai perkakas apa untuk menghancurkan tembok itu. Bagiku sebesar apapun itu yang penting aku bisa berjalan melewatinya.
Kota ini ternyata menyimpan tembok-tembok besar yang harus aku runtuhkan. Satu dua tembok bisa aku hancurkan. Namun, tidak untuk yang selanjutnya. Aku hanya termenung didepannya. Tatapanku penuh dengan keputus-asaan. Naluriku sebenarnya menyimpan rasa penasaran; apakah sebenarnya yang ada dalam dibalik tembok itu?.
Namun, sampai hari ini naluri itu hanya arca dalam hatiku yang tidak bisa disentuh oleh siapapun, bahkan oleh diriku sendiri. Akupun tidak tergerak sama sekali untuk menghancurkan tembok yang ada dihadapanku.


Tanpa terasa pula satu persatu dari temanku meninggalkan kota ini dengan sebuah rona kebahagiaan. Sedangkan aku hanya termenung kosong mendengar kepergiannya. Lalu naluriku kemudian berbisik; lihatlah mereka? Sudah sejauh mana dirimu ini?
Tapi bisikan itu tidak berjalan lama. Dia terhenti dibawah kolong jembatan yang diwaktu-waktu tertentu diguncangkan oleh geraknya kereta api.
“Hey bung! Janganlah kau bandingkan dirimu dengan dirinya!”
Sahabatku yang satu ini memang sedikit susah untuk dimengerti. Alur hidupnya betul-betul mengalir. Sepertinya tak pernah kudengar dia berucap ingin benda ini atau benda itu. Jabatan ini atau jabatan itu. Atau menginginkan kekayaan dengan bergelimangan harta. Hasil kerjanya sudah dianggap cukup walau hanya untuk makan dua kali dalam sehari. Baginya apa yang ada sekarang itulah yang terbaik bagi dirinya. Hanya satu cita-cita yang pernah kudengar langsung dari mulutnya; dia ingin sekali melihat anak-anak dikampungnya ramai dengan bacaan-bacaan yang terpajang disebuah taman baca.
Setelah meminum kopi panas dari cangkir kecil dia kembali bertutur.
“Apalah artinya jika kita bandingkan diri ini dengan W.S Rendra yang dengan untaian kata-katanya mampu menyihir kesadaran masyarakat. Apalah artinya jika kita membandingkan diri ini dengan Charles Darwin yang telah mempengaruhi dunia sekian tahun walau aku tetap menolak teori itu. Kita masih jauh kawan!”
“Tapi sesalah itukah jika kita melihat mereka?” aku sedikit menyanggahnya, karena aku teringat perkataan-perkataan yang juga berhubungan dengan ini.
Seperti perkataan: “bercerminlah kau kepada orang lain”.
“Tidak kawan kau tidak salah. Tapi, kau kurang tepat melihat mereka. Lebih tepat jika kau mengambil teladan mereka, bukan untuk dibanding-bandingkan dengan kita. Karena kau akan merasa capek dan lelah jika kau membandingkan dirimu yang sekarang dengan mereka.” Dia mengambil kacang rebus yang ada dalam kresek merah yang baru saja dia pesan. Begitupun dengan aku.
Kemudian dia melanjutkan kembali perkataannya.
“Kita sudah diberi porsi masing-masing untuk melangkah. Porsi-porsi itu diberikan oleh Tuhan sesuai dengan kemampuan yang kita miliki untuk melangkah diporsi tersebut. Belum tentu kita bisa melangkah di porsinya orang-orang yang kita bandingkan.” Dia kembali membuka satu persatu kacang rebus untuk kemudian dimakannya.
“Berarti selama ini pikiran-pikiran kita-lah yang membuat kita iri atau salah sangka dengan mereka. Kadang aku melihat rasanya enak hidup seperti dia, kerja mapan, jabatan luhur yang ditunjang dengan popularitas tinggi”. Aku mencoba menyimpulkan perkataanya-perkataanya tadi.
“Tepat kawan. Kita belum tentu bisa hidup dengan bergelimangan harta seperti apa yang kita bandingkan terhadap orang kaya. Pokoknya, syukurilah apa yang ada dalam diri kita sekarang dan bandingkan dirimu dengan dirimu sendiri!!!.”
Malam itu udara kota ini begitu cerah. Puluhan motor dan beberapa mobil diberhentikan oleh lajunya kereta api yang akan melintas disamping kananku. Entah bagaimana jika jalan yang akan dilalui kereta itu tidak memiliki pembatas.
Setelah pembatas kereta dipasang, ada pemberitahuan kepada pengguna jalan untuk sementara waktu mempersilahkan kereta melaju didepan mereka. Para pengguna jalan dengan berbagai jenis dan merek kendaraan mulai terhenti dikanan atau kiri perlintasan. Kereta belum juga terdengar untuk melaju melewati jalan itu.
Ruas jalan yang terbagi dua malam itu tidak lah nampak. Sebagian pengguna kendaraan bermotor telah menjadikannya satu karena tidak sabar ingin segera melaju. Setelah kereta melaju dan pembatas terbuka, jalan yang dilintasi kereta itu nampak seperti buah pisang yang diperebutkan oleh puluhan kera. Mereka saling berebut jalan. Kendaraan yang dari arah kanan perlintasan terlihat sulit untuk melaju, karena jalan yang ada didepannya terhalang oleh kendaraan yang mengambil jalur kanan dari arah kiri perlintasan. Begitupun sebaliknya. Akibatnya, jalan diperlintasan itu bagai tempat hiburan anak-anak yang dimeriahkan oleh berbagai suara klakson.
Kereta yang baru melintas itu menjadi awal perpisahanku dengan dia. Berdasarkan jadwal, kereta yang akan membawanya ke Bandung akan berangkat setengah jam kemudian setelah kereta itu.
“Oke kawan sepertinya aku harus berangkat sekarang”. Dia mengangkat tangannya dan menyodorkannya ke hadapanku.
Aku-pun menerimanya sebagai tanda perpisahan. Jabatan tangannya begitu kuat penuh dengan optimisme hidup. Bibirnya tersenyum lebar mengarah tepat diwajahku. Aku-pun membalasnya dengan senyum balik.
“Kawan! Terimakasih kau telah mengantarku ke perpustakaan kota, ke toko buku walaupun hanya untuk baca-baca disana, dan kau sekarang mengantarku untuk pulang.”
“Sama-sama kawan.”
Dia melepaskan jabatan tangannya. Kemudian berjalan menuju loket pemberangkatan. Tas sobeknya yang berisi satu kaos oblong dan sebuah novel karya salah satu novelis perempuan Indonesia digendongnya diatas punggung. Kakinya beralaskan sandal jepit dengan celana jeans lusuh dan kaos oblong yang membalut tubuhnya dengan tulisan dibelakangnya; “kenalpotmu itu lhoo…!!!”
Aku-pun pergi meninggalkannya. Meninggalkan segala hiruk-pikuk yang ada distasion malam itu. Aku kembali ketempat dimana aku sering bermimpi dikota ini. Walau aku merasakan akhir-akhir ini mimpi-mimpi itu telah mati.

0 komentar:

Posting Komentar