“Pernahkah kau merasa hatimu hampa…?”
Itu band Ungu yang bilang. Bukan saya. Saya hanya menulis ulang. Tepatnya si Pasha-nya yang bilang. Diakan juru bicaranya Ungu band. Ya dia, yang kalau saya nonton info-TAI-nment nama aslinya itu Sigit Purnomo Said. Kalau dipikir-pikir si Pasha jauh juga tuh dengan nama aslinya. Padahal nama aslinya terdiri dari tiga kata dan enam belas huruf. Nggak percaya? hitung saja sendiri!.
Tapi banyak juga tuh tragedi orang-orang seperti Pasha. Dulu saya pernah punya bodiguar pas zaman-zamannya SMA. Dia yang tiap pagi membuka dan menjaga gerbang depan SMA. Pengen tahu siapa namanya? Dia itu bernama Maman Sudirman Syam. Lumayan kan namanya sedikit keren? Ada Syam-nya lho! Tapi sayang tuh, rasa kerennya itu hilang. Hilang gara-gara dia belum pernah dipanggil itu. Di panggil Maman Sudirman Syam. Dia biasanya dipanggil ucha. Hehehe. Ssstttt awas jangan ketawa lho! Dia itu bodyguar. Lah itu makanya kan jadi kurang keren. Lagian jauh banget dari Maman Sudirman Syam menjadi Ucha. Padahal nama Maman Sudirman Syam telah menghabiskan beberapa mangkuk bubur yang dibagikan kepada masyarakat pas dia dikasih nama. Untung saja pas jadi nama Ucha masayarakat nggak dikasih bubur lagi. Hehehe. Kan boros. (Buat kang Ucha yang ada disana Piss ah!)
Kembali kepertanyaan diatas
Saya tegaskan kembali itu band Ungu yang bilang. Tepatnya si Pasha yang bilang. Yang sama Iis Dahlia itu. Yang ada reffernya juga. Bukan saya. Saya hanya menulis ulang.
Tapi jujur ya saya ini manusia, makanya saya jawab iya untuk pertanyaan Pasha diatas. Tapi, kalau jawabannya iya saja pasti nggak menarik. Dan tulisan ini pun cukup sampai iya saja. Saya mah tidak mau iya doang. Karena iya adalah kesimpulan. Dan kesimpulan iya ini didapat dari tumpukan-tumpukan alas an yang akhirnya menjadi iya atas pertanyaan itu. Nah itu deh kira-kira yang sering dibilang orang hukum kausalitas. Hukum sebab akibat. Sebabnya ini itu maka akibatnya saya bilang iya. Makanya kalau sudah begini, pertanyaan lain akan muncul kira-kira begini lah pertanyaanya:
“Kenapa hatimu hampa?”
Kalau yang dijadikan lirik di lagu pertanyaan itu sang pencipta lagu (nggak tau si Pasha atau siapa) sepertinya mengarah kepada cinta. Dan kebanyakankan arahnya kesana terus. Makanya kalau orang yang sedang tertimpa, tertimbun dan terhanyut oleh masalah cinta alunan music biasanya akan menambah drama cinta itu. Ini katanya lho. Bukan kata saya.
Ya sepertinya memang lirik lagu ini ke cinta. Maaf kalau disuatu nanti analisis saya ini keliru. Harap anda untuk segera konfirmasi. Karena saya bukan analis music. Saya hanya pecinta. Pencinta music yang “tidak berlebihan”. Atau lebih lanjut tanyakan ke Bens Leo atau kang Danny itu loh mereka yang kalau nonton info-TAI-nment pas dia diwawancarai pasti di televise anda akan keluar nama dia. Dibawah nama dia akan keluar lagi keterangan yang biasanya menyangkut profesi, jabatan atau status. Nah dia itu namanya Bens Leo atau kang Danny nah di bawahnya ada tulisan pengamat music. Pemisah antara nama dan profesinya biasanya berbentuk garis. Ah pokoknya tonton saja deh televisinya!
Nah kalau saya jawaban dari pertanyaan yang merupakan pertanyaan beruntun dari pertanyaan awal: Pernahkah kau merasa hatimu hampa…? Adalah bukan karena cinta. Baik itu cinta sama lawan jenis atau cinta sesama jenis. Atau cinta dari berbagai jenis. Tapi, hati saya hampa adalah karena kosong. Ya kosong. Berarti nggak berisi. Bukan kosong kaya Tong Sam Chong sang biksu yang ditemani Kera Sakti. Kalau bagi dia kosong itu berisi dan berisi itu adalah kosong. Anda pusing kan? Sama saya juga yang nulis pusing.
Nah kalau ini saya bener-bener kosong. Hati saya ikut kosong karena beberapa minggu ini saya tidak memiliki rutinitas yang jelas. Sebenarnya adalah rutinitas, ya sebatas dua hari. Itu ada jadwalnya di KRS (Kartu Rencana Study). Tapi kartu itu belum saya ambil. Masih ada sepertinya di lemari TU kampus. Kecuali mungkin kalau petugas TU menjualnya ke tukang gorengan. Lah untuk apa ke tukang gorengan? Ya untuk bungkus gorengan. Kan hebat tuh nantinya gorengan itu ada merek kampusnya.
Nah masalahnya lagi rutinitas yang ada di KRS yang mungkin sudah dijual oleh penjaga TU ke tukang gorengan agar gorengan itu punya brand kampus biar menyaingi ayam kampus, (koma disini yang baca kan perlu nafas dulu) saya belum pernah melakukannya alias belum pernah masuk. Kenapa? Karena ada ajah. Dan ternyata jadwalnya juga berubah dari itu KRS. Itu saya ketahui ketika saya sudah satu bulan nggak masuk kampus, saya masuk kampus. Dan pas saya lihat ternyata jadwal sudah berubah. Akhirnya sudahlah saya relakan dia pergi. Maksdunya saya sudah nanggung jadi sudah nggak masuk saja sekalian.
Akhirnya, kosong deh saya dari aktifitas-aktifitas yang terikat dan mengikat. Tapi lama-lama dan kelamaan kosong itu memang tidak ada isinya. Tidak indah begitu. Apalagi saya banyak diam saja di kontrakan. Saya ga mau kemana-mana walau saya bebas dari rutinitas terikat dan mengikat. Karena apa? Karena saya malas. Malas mengeluarkan uang. Dan memang tidak ada uang yang bias dikeluarkan. Artinya saya pun boke.
Dari sini saya diam dikontrakan terus. Terus. Terus dan terus. Lalu otak saya bosan. Hati saya ikut hampa. Hampa seperti lirik lagu yang dinnyanyikan Pasha sama Iis Dahlia sama reffernya itu. Tapi sekali lagi, saya hampa bukan karena cinta pada lawan jenis, sesama jenis atau berbagai jenis. Tapi saya hampa aktifitas yang rutinitas. Itu. Karena itu hati saya hampa. Sudah jelas lah yah!
Nah, sudah terjawabkan pertanyaan yang merupakan pertanyaan dari pertanyaan: “Pernahkah kau merasa hatimu hampa…?”
Tapi saya mencoba bak seorang artis yang ditanya oleh wartawan info-TAI-nment mengenai kehidupan pribadinya dengan bertubi-tubi.
Sang wartawanpun bertanya lagi sama saya.
“Lalu apa yang anda lakukan ketika hati anda mengalami kehampaan?”
Sebagai artis yang dekat dengan awak media saya-pun harus menjawabnya. Agar saya diberitakan yang baik-baik. Kan nanti mempengaruhi popularitas saya. Makanya saya baik-baik sama itu wartawan. Biar citra saya positif.
Lalu saya menjawab itu pertanyaan. Ya setelah saya merasakan kehampaan. Saya betul-betul jenuh. Jenuh sekali. Tapi tuhan memang maha adil. Setelah saya merasa jenuh itu. Ada teman lama saya yang datang kesaya untuk ngajak jalan-jalan saya.
Bukan wartawan namanya kalau tidak tahu celah. Karena wartawan itu tau kalau hanya saya artis yang dikabarkan belum punya pasangan. Makanya dia bertanya kembali. Pertanyaannya begini:
“teman apa teman?” Itu pertanyaan dari salah satu program berita gossip yang tayang jam 01.00 pagi.
“Siapa sich mas?” Kalau yang ini pertanyaan dari wartawati dari salah satu program info-TAI-nment yang tanyang jam 12.00 malam.
Eia hampir lupa waktu itu saya conferensi pers sama mereka untuk meluruskan kabar miring yang terjadi dimasyarakat tentang saya.
Saya jawab. Itu temen saya namanya cecep deden umay tripleks (punten kang umay ah). Dia temen lama saya dan kebetulan waktu itu dia kejogja untuk sebatas liburan dari aktifitasnya yang begitu padat sebagai penjual pulsa. Nah kalau anda mau beli pulsa bias menghubungi teman lama saya ini.
Kebetulan teman lama ini tau kalau saya tinggal dijogja. Makanya dia ngajak jalan-jalan katanya pengen tau Jogja.
“Nah sudah jelas kan?” Tanya saya ke wartwan agar mereka betul-betul jelas menerima informasi.
Eia hampir lupa saya tegaskan kepada anda semua bahwa saya masih normal. Paham kan maksud saya? Semoga teman-teman besok saya tidak mendengarkan adanya berita bahwa saya pasangan sejenis. Karena teman lama saya juga bukan pecinta sesama jenis. Dia adalah play boy. Sekarang pun sedang menjalin asmara dengan tiga perempuan yang merupakan anak ketua RT di berbagai tempat. Investigasi saja kalau ngga percaya?.
Bukan wartawan namanya kalau pertanyaan sampai disitu. Lalu muncul lagi pertanyaan. Kali ini dari wartawan cetak yang isinya memuat berita-berita artis yang beredar dikalangan terbatas.
“Jalan-jalan kemana nih?” Tanya dia sambil pakai nada senyum gitu.
“Mau tau saja ya?” Hehehe tanggap saya.
“saya ini kemarin jalan-jalan ke perpustakaan kota Jogja. Rutenya dari kontrakan belok kanan, belok kiri, lurus ada lampu merah belok kanan, belok kiri lurus melewati kantor PJKA, lurus lagi ada perempatan lurus terus, belok kiri lagi, belok kanan lagi belok kiri lagi lalu saya masuk gerbang yang ada tulisannya perpustakaan kota Yogyakarta. Lalu saya absen kebagian informasi saya tanda tangan disana. Lalu saya menghampiri rak-rak buku. Lalu saya ambil satu. Lalu saya duduk. Lalu saya baca itu buku.” Begitulah kira-kira perjalanan saya.
“Capek ya?” Tanya saya sambil tersenyum dikit.
“ya anda pasti capek mendengarkan, beda dengan saya. Perjalanan saya itu saya tempuh dengan GL Pro. Itu kira-kira 2 kiloan meter lho” lanjut saya.
“Ooo gitu mas”. Tanggap seorang yang bawa-bawa buku catatan kecil itu.
“Ya kalau pake motor kan 2 kilo ga terlalu capek mas? Mang GL pro tahun berapa mas?”. Sambung wartawan lainnya.
“wah itu GL pro tua banget tuh, jarang deh pokoknya artis yang pake ini. Dia itu GL pro seusia saya. Baru bisa jalan setelah kira-kira 3 tahunan pas saya punya itulah.” Jawab saya.
Nampak muka-muka wartawan itu pada bingung.
Lalu salah satu wartawan bertanya kembali.
“boleh kami lihat GL pronya mas?” begitulah pertanyaan wartawan yang selalu pengen tau saja.
“boleh-boleh banget” jawab saya ringan.
“ditaruh dimana mas?”Tanya wartwan lagi.
Saya berdiri dari kursi conferensi pers. Saya maju dikit keluar dari meja. Lalu saya angkat celana jeans lusuh saya sampai kelutut. Seseudah kelihatan lutut itu saya bilang:
“ini lho GL pro saya. Gerakan Lutut Propesional”.
Sontak para wartawan itu tertawa. Saya pun ikut tertawa. Lalu bertanya lagi si wartawan. Ya beginilah kalau konperensi pers. Kerjaannya Cuma nanya lalu jawab. Nanya lagi jawab lagi.
“maksud mas jalan kaki GL pro itu? Berarti jalan-jalannya kemarin itu jalan kaki?”
“betul banget, 100 buat anda deh”. Itu saya yang ngasih seratus buat wartawan.
“kalau temen-temen mau liput perjalanan saya boleh juga. Biar nanti masuk program sehari bersama saya. Asyik lho sambil olahraga juga. Itu lebih dari 10.000 langkah lho. Anda nggak usah pake seragam jalannya. Pokoknya asyik deh anda bisa merasakan baunya knalpot, anda bisa merasakan susahnya melintas karena banyak pengendara jalan yang tidak mempersilahkan si pejalan kaki melintas. Anda bisa lihat pengemis. Bisa lihat pengamen yang sedang bercengkrama. Asyik deh pokoknya, sekalian kita diskusikan hasil bacaan saya dari perpustakaan itu”. Tambah saya panjang.
“oo gitu ya mas kapan-kapan saja perjalanan mas ini di masukan ke program sehari bersama anda, sukses ya mas”. Tanggap wartawan sambil tersenyum.
“oke deh ngga apa-apa tapi jangan kecewa ya kalau perjalanan saya ini lebih dulu keluar di program catatan maleman saya hehehe”. Itu saya yang bilang.
“oke juga deh mas”. Jawab wartawan. Mereka sambil tersenyum juga lho sama saya.
“ya kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi, saya tutup ya conferensi persnya. Makasih ya teman-teman sudah mau hadir kesini. Jangan kapok lho ya. Ntar saya ajak teman-teman jalan-jalan. Jalan kaki. Jaraknya ya 2 kiloan cukup ya. Jangan lupa bawa peralatan wawancaranya. Eia jangan lupa juga bawa makanan sendiri ya. Ya kalau ngga di makan sendiri. Kita bagi rame-rame dijalan untuk pengemis atau pengamen. Atau untuk siapalah. Nanti kan anda bisa meliput anda sendiri lewat satu program; wartawan info-TAI-nment berbagi. Hehehhe”. Itu penutupan saya yang panjang.
“ok deh mas. Thaks juga ya”. Itu wartwan pamit sama saya.
Besok pasti hasil conferensi pers ini keluar di berbagai info-TAI-nment. Kira-kira bagaimana ya beritanya?
0 komentar:
Posting Komentar