13 Mar 2012

Supir Sangar: Melo nan Galau


Saatnya saya pergi kemudian. Itu berlaku setelah saya pulang dari tempat domisili fisik. Maka itu lebih tepat lagi saya pakai kata tambahan lagi atau kembali. Di suatu petang itulah saya pergi lagi atau kembali ke itu tempat domisili fisik. Petang itu dibuat dari gerimis diperjalanan, berbagai makanan (maaf  kalau tidak sesuai dengan EYD yang dari itu) dengan rasa yang sebenarnya ingin perginya lagi beberapa hari kemudian. Lagi-lagi juga dengan rasa tanda Tanya; “diharapkan jangan sama orang sana ya!”

Tiba-tiba saya dihadapkan dengan angkot. Di sebuah jalan yang membelah masjid agung dengan kantor kecamatan juga beberapa kios produk kerajinan tangan khas daerah ini yang memanjang 2 km-an. Padahal saya cuma melambaikan tangan kiri ke dalam jalan. Saya yakin supirnya tahu kalau saya ingin menaiki mobilnya. Meski nggak terlalu bagus. Ya, supaya dia juga dapat uang dari saya. Dan saya yakin dia nggak tahu uang yang saya kasih nanti ke dia, dia nggak tahu dari hasil apa.

Mungkin karena sudah menjelang malam, sepi sekali angkot ini. Hanya ada saya yang duduk dibelakang kursi supir dan ibu-ibu yang duduk disebelah supir yang tanpa kondektur itu. Saya tahu itu setelah saya masuk didalam. Jadi ini fakta. Dan mungkin karena sepi dan sudah menjelang malam itu pula si supir menyalakan dvd player yang ada disamping kiri stirnya.

Supir ini terlihat masih muda. Kalau dia punya keinginan masuk Timnas sepertinya bisa masuk ke Timnas U-23. Atau bahkan presenter sebuah program berita tv yang selalu mensyaratkan batas usia maksimal 24 tahun. Tapi, untuk presenter ini sepertinya cukup berat, karena ada syarat lain; penampilan harus menarik. Menarik agar pemirsanya betah melihat program berita karena yang membawakannya juga betah dilihat. Dari sudut manapun (kecuali dari bawah) angle kamera menyorot dia tetap menarik untuk dilihat. Dan penilaian saya, syarat ini cukup sulit untuk dilalui sang supir. Maaf….

Rambutnya panjang sebahu dengan warna pirang biar nampak seperti bule sepertinya. Modelnya sedikit mowhak. Telinganya, kirinya beranting. Kulitnya coklat kelam. Kedua pergelangan tangannya dipasangi aksesoris gelang seperti rantai. Tangan kanannya bertato, entah apa gambarnya. Saya hanya bisa melihat bagian belakangnya sedikit yang hampir nyampai sikutnya. Celana jeansnya terlihat sobek dibagian lutut. Tak kalah sangarnya adalah sebagian gigi atasnya hilang (ompong). Ini saya tahu pertama kali dia tersenyum mempersilahkan ibu itu untuk naik diangkotnya; “mangga bu (bahasa sunda, artinya silahkan bu)”. Inilah yang saya nilai kenapa dia cukup berat jadi presenter yang membawakan berita tv dengan sorotan kamera. Sekali lagi maaf…       

Saya berprasangka ketika dia hendak menyalakan dvd player-nya, lagu-lagu yang akan diputar pasti ber-genre rok atau metal. Tapi, ternyata dugaan saya salah. Salah banget. Ternyata dia memutar lagu dengan genre melo. Melo banget dengan lirik yang mudah sekali dicerna tapi terkesan cengeng. Maafkan saya aa supir, saya telah su’udzan sama kamu. Sudah positif tinking. Tapi ternyata negatif.

“mengapa kau pergi 2x, disaat aku mulai mencintaimu, berharap engkau jadi kekasih hatiku, malah kau pergi jauh dari hidupku……”
inilah yang pertama kali dia putar. wahai aa supir: apakah kamu sedang patah hati? Apakah kamu diputuskan oleh pacarmu?
Entah karena tambah sedih atau saking jengkelnya, si supir mengganti lagu itu sebelum selesai. Tangan kirinya mengambil remote yang di taruh dekat pengoper gigi mobil yang menyatu dengan recehan.
Dan mengudaralah lagu:
“kemana kamu kemana? Dimana kamu dimana?disini aaaku…”  
Ia menghentikan angkotnya. Ngetem (menungu penumpang, bahasa sunda) disebuah pertigaan. Ia menyandarkan duduknya yang tadinya agak tegak. Tangan kanannya memegang jidatnya yang dengan sikut yang ia taruh di pintu mobil yang kacanya terbuka penuh itu. Raut mukanya terlihat begitu sedih. Itu saya lihat dari kaca sepion. Bahkan sepertinya hampir menangis. Tapi nungkin dia berpikir-pikir dulu. Berpikir ke rambut pirangnya, anting, dan tatto. Juga pada kami; penumpang. Apakah kamu sedang galau wahai aa supir?

Ia melanjutkan jalannya mobil. Itu setelah menunggu beberapa menit tapi tidak ada juga penumpang. Angkot terus melaju lurus dengan kecepatan sedang. Lurus menuju terminal bertipe A itu. Masih jauh jalan kesana. Angkot tiba-tiba diberhentikan. Itu ada orang yang melambaikan tangan didepan sebuah pabrik. Naiklah si wanita muda putih berkacamata dengan pakaian jas hitam dengan kemeja putih didalamnya dan celana panjang dikakinya. Tak lupa beberapa lembar kertas yang ia pegang digenggaman tangannya.  

“mangga teh..!!” (itu bahasa sunda yang artinya silahkan mba!)
Sang supir mempersilahkan karyawan pabrik itu. Dengan senyuman. Tapi tidak sampai membuka mulutnya. Angkot melaju lagi. Tiba-tiba si supir mengambil lagi remote-nya. Mengganti lagunya.
“kenapa kamu selingkuh….”
Baru beberapa bait lirik, si supir itu sudah mengganti lagi. Ke lagu sebelumnya. Berputar sebentar, ia ganti lagi. Sekarang, saya melihat dia menyetir hanya dengan tangan kanannya. Karena tangan kirinya terus memencet tombol remote. Tapi kecepatan angkotnya ia tambah. Melaju dengan kencang. Melewati tikungan yang ada rel kereta apinya. Melewati sebuah lembaga pendidikan yang punya minimarketnya dengan kerumunan orang yang cukup banyak. Tiba-tiba angkot berhenti mendadak. Si supir menginjak rem dengan tekanan yang tinngi. Oh… hampir saja dia menabrak dua orang remaja yang sedang berjalan di kiri jalan yang menikung searah dengan angkot.

a**j**g…….”
Si supir meneriaki remaja itu. Penumpangnya hanya terdiam kaget. Dua remaja itu terlihat lebih kaget. Tapi ditambah dengan rasa kesal dengan muka kecut yang mereka pasang. Si supir tidak peduli dengan itu, ia kembali melajukan angkot. Kembali juga memutar lagu yang sangat melo. Membuatnya tambah galau juga tidak konsen dengan apa yang dia kerjakan. Oh…



0 komentar:

Posting Komentar