Saatnya
saya pergi kemudian. Itu berlaku setelah saya pulang dari tempat domisili
fisik. Maka itu lebih tepat lagi saya pakai kata tambahan lagi atau kembali. Di suatu
petang itulah saya pergi lagi atau kembali ke itu tempat domisili fisik. Petang
itu dibuat dari gerimis diperjalanan, berbagai
makanan (maaf kalau tidak sesuai dengan
EYD yang dari itu) dengan rasa yang sebenarnya ingin perginya lagi beberapa
hari kemudian. Lagi-lagi juga dengan rasa tanda Tanya; “diharapkan jangan sama
orang sana ya!”
Tiba-tiba
saya dihadapkan dengan angkot. Di sebuah jalan yang membelah masjid agung dengan
kantor kecamatan juga beberapa kios produk kerajinan tangan khas daerah ini
yang memanjang 2 km-an. Padahal saya cuma melambaikan tangan kiri ke dalam
jalan. Saya yakin supirnya tahu kalau saya ingin menaiki mobilnya. Meski nggak
terlalu bagus. Ya, supaya dia juga dapat uang dari saya. Dan saya yakin dia
nggak tahu uang yang saya kasih nanti ke dia, dia nggak tahu dari hasil apa.
Mungkin
karena sudah menjelang malam, sepi sekali angkot ini. Hanya ada saya yang duduk
dibelakang kursi supir dan ibu-ibu yang duduk disebelah supir yang tanpa
kondektur itu. Saya tahu itu setelah saya masuk didalam. Jadi ini fakta. Dan
mungkin karena sepi dan sudah menjelang malam itu pula si supir menyalakan dvd player yang ada disamping kiri
stirnya.
Supir
ini terlihat masih muda. Kalau dia punya keinginan masuk Timnas sepertinya bisa
masuk ke Timnas U-23. Atau bahkan presenter sebuah program berita tv yang
selalu mensyaratkan batas usia maksimal 24 tahun. Tapi, untuk presenter ini
sepertinya cukup berat, karena ada syarat lain; penampilan harus menarik.
Menarik agar pemirsanya betah melihat program berita karena yang membawakannya
juga betah dilihat. Dari sudut manapun (kecuali dari bawah) angle kamera menyorot dia tetap menarik
untuk dilihat. Dan penilaian saya, syarat ini cukup sulit untuk dilalui sang
supir. Maaf….
Rambutnya
panjang sebahu dengan warna pirang biar nampak seperti bule sepertinya.
Modelnya sedikit mowhak. Telinganya,
kirinya beranting. Kulitnya coklat kelam. Kedua pergelangan tangannya dipasangi
aksesoris gelang seperti rantai. Tangan kanannya bertato, entah apa gambarnya.
Saya hanya bisa melihat bagian belakangnya sedikit yang hampir nyampai
sikutnya. Celana jeansnya terlihat sobek dibagian lutut. Tak kalah sangarnya
adalah sebagian gigi atasnya hilang (ompong). Ini saya tahu pertama kali dia
tersenyum mempersilahkan ibu itu untuk naik diangkotnya; “mangga bu (bahasa
sunda, artinya silahkan bu)”. Inilah yang saya nilai kenapa dia cukup berat
jadi presenter yang membawakan berita tv dengan sorotan kamera. Sekali lagi
maaf…
Saya
berprasangka ketika dia hendak menyalakan dvd
player-nya, lagu-lagu yang akan diputar pasti ber-genre rok atau metal. Tapi, ternyata dugaan saya salah. Salah
banget. Ternyata dia memutar lagu dengan genre melo. Melo banget dengan lirik
yang mudah sekali dicerna tapi terkesan cengeng. Maafkan saya aa supir, saya
telah su’udzan sama kamu. Sudah positif tinking. Tapi ternyata negatif.
“mengapa kau pergi 2x, disaat aku
mulai mencintaimu, berharap engkau jadi kekasih hatiku, malah kau pergi jauh
dari hidupku……”
inilah
yang pertama kali dia putar. wahai aa supir: apakah kamu sedang patah hati?
Apakah kamu diputuskan oleh pacarmu?
Entah
karena tambah sedih atau saking jengkelnya, si supir mengganti lagu itu sebelum
selesai. Tangan kirinya mengambil remote yang di taruh dekat pengoper gigi
mobil yang menyatu dengan recehan.
Dan
mengudaralah lagu:
“kemana kamu kemana? Dimana kamu
dimana?disini aaaku…”
Ia
menghentikan angkotnya. Ngetem (menungu
penumpang, bahasa sunda) disebuah pertigaan. Ia menyandarkan duduknya yang
tadinya agak tegak. Tangan kanannya memegang jidatnya yang dengan sikut yang ia
taruh di pintu mobil yang kacanya terbuka penuh itu. Raut mukanya terlihat
begitu sedih. Itu saya lihat dari kaca sepion. Bahkan sepertinya hampir
menangis. Tapi nungkin dia berpikir-pikir dulu. Berpikir ke rambut pirangnya,
anting, dan tatto. Juga pada kami; penumpang. Apakah kamu sedang galau wahai aa
supir?
Ia
melanjutkan jalannya mobil. Itu setelah menunggu beberapa menit tapi tidak ada
juga penumpang. Angkot terus melaju lurus dengan kecepatan sedang. Lurus menuju
terminal bertipe A itu. Masih jauh jalan kesana. Angkot tiba-tiba
diberhentikan. Itu ada orang yang melambaikan tangan didepan sebuah pabrik. Naiklah
si wanita muda putih berkacamata dengan pakaian jas hitam dengan kemeja putih
didalamnya dan celana panjang dikakinya. Tak lupa beberapa lembar kertas yang
ia pegang digenggaman tangannya.
“mangga teh..!!”
(itu bahasa sunda yang artinya silahkan
mba!)
Sang
supir mempersilahkan karyawan pabrik itu. Dengan senyuman. Tapi tidak sampai
membuka mulutnya. Angkot melaju lagi. Tiba-tiba si supir mengambil lagi
remote-nya. Mengganti lagunya.
“kenapa kamu selingkuh….”
Baru
beberapa bait lirik, si supir itu sudah mengganti lagi. Ke lagu sebelumnya.
Berputar sebentar, ia ganti lagi. Sekarang, saya melihat dia menyetir hanya
dengan tangan kanannya. Karena tangan kirinya terus memencet tombol remote.
Tapi kecepatan angkotnya ia tambah. Melaju dengan kencang. Melewati tikungan
yang ada rel kereta apinya. Melewati sebuah lembaga pendidikan yang punya
minimarketnya dengan kerumunan orang yang cukup banyak. Tiba-tiba angkot
berhenti mendadak. Si supir menginjak rem dengan tekanan yang tinngi. Oh…
hampir saja dia menabrak dua orang remaja yang sedang berjalan di kiri jalan
yang menikung searah dengan angkot.
“a**j**g…….”
Si
supir meneriaki remaja itu. Penumpangnya hanya terdiam kaget. Dua remaja itu
terlihat lebih kaget. Tapi ditambah dengan rasa kesal dengan muka kecut yang
mereka pasang. Si supir tidak peduli dengan itu, ia kembali melajukan angkot.
Kembali juga memutar lagu yang sangat melo. Membuatnya tambah galau juga tidak
konsen dengan apa yang dia kerjakan. Oh…
0 komentar:
Posting Komentar