16 Nov 2011

Pijat Rambut

Disuatu sore yang pertengahan November ditahun dua ribu sebelas yang sudah melewati tanggal sebelas, saya terbang kesana kemari. Tapi, maaf merpati saya tidak bisa bareng sama kamu. Kesana kemarinya saya bersama motor matic. Jadi, saya terbangnya bersama itu matic motor. Motor hasil pinjeman. Itu saya gunakan setelah saya dapat izin. Dari dia. Dia yang teman saya satu kamar saat itu, satu daerah bukan saat itu saja, beda kampus sampai sekarang dari dulu.

Karena disuatu sore yang pertengahan November ditahun dua ribu sebelas yang sudah melewati tanggal sebelas, mentari sore diselimuti awan hitam. Sehitam asap knalpot truk yang saya salip dari belakang. maaf pak supir truk saya mengagetkanmu dari belakang...!!! Bukan saya nggak sopan, tapi asap yang kau keluarkan. Karena diselimuti awan hitam, itu mendung artinya. Berarti, biasanya, jika Tuhan menghendaki bakalan hujan. Sepertinya "November Rain-nya" GnR memang untuk saya.

Oh dia yang cuma punya satu kesamaan daerah. Oh matic yang saya ajak terbang kesana kemari. Oh supir truk yang saya salip. Maaf kan saya. Dan terimakasih untuk GnR yang ngasih soundtrack walau belum hujan. Ini semua karena rambut saya. Rambut yang tipis ini. yang ada di bagian paling atas kepala. Kepala yang atas. Entah kenapa saya pengen selalu memotongnya.Memotong rambutnya. Bukan kepalanya. Ini soal, mungkin fashion. Juga kenyamanan. Bagi saya, 3 cm panjang rambut sudah sangat panjang. Saya sukanya 1 cm. Sedikit tafaul sama Karim Benzema.

Disuatu sore yang pertengahan November ditahun dua ribu sebelas yang sudah melewati tanggal sebelas, karena itulah saya mutar-muter. Mutar-muter untuk cari salon. Ke jalan Gejayan, saya cari. Ternyata, salon itu tidak saya ketemukan wahai Ihsan. Itu dia manusia yang sehari sebelumnya saya tanya;
"San, kamu dicukur dimana?yang nyukurnya gimana?"


Lalu saya muter lagi. Muter ke dekat balai kota. Owh... yang ini saya temukan, tapi mereka yang mencukur dengan paras yang cantik itu sedang penuh. Artinya sedang banyak pelanggan. Saya males nunggu. Muter lagi akhirnya saya. kemana? kesana wahai saudaraku kalau kamu mau tau. kesana melewati Jogja Expo Center. Lalu saya terbang dijalan layang. Lalu belok kiri setelah lampu merah Hugos Cafe. Lalu lurus. Lalu nikung dikit. Pusing kan?semoga tidak.


Disitu, setelah nikung sedikit itu. Disitu yang depan lintas jalan Ring Road Utara itu saya berhenti. Berhenti saya, karena disitu ada salon. Dipinggir jalan tepat itu, salonnya sepertinya nggak ada pelanggan. Sepi. Sya hanya melihat pegawai salon sedang duduk. Duduk sambil memegang kartu remi. Ntah sedang apa. Tapi, nggak perlu dipikirkan. Saya masuk. Itu setelah saya buka helm, kunci stang matic dan turun dari motor.


Baru saja kaki menginjak lantai kiosnya yang ditutup gray dan hanya terbuka seuukuran ade namnung, artinya kecil itu pintunya. Si wanita yang sendiri yang sedang pegang kartu remi itu memanggil teman-temannya;

"Hei..iki lho" Itu dia memanggil temannya. Eia iki lho itu bahasa Jawa, artinya: Ini lho. begitu kira-kira.Dan, jika kamu ingin tahu, tiga kata itu ternyata membangunkan empat orang sekaligus. Orang disini berjenis kelamin wanita semua. Wanita-wanita itu muncul dari kamar bagian belakang salon. Ruangan yang gelap. Dan pastinya, jika kamu diluar sana, dijalan maksudnya. Kamu pasti tidak akan bisa melihatnya. Dan keluarlah mereka semua. Ada yang merah mereka pake bajunya. Ada yang putih. Dan ada yang hitam. Celananya, Dua pendek kira-kira 20 cm diatas lutut. Dan ada yang panjang. Tapi, semuanya, semuanya wanita itu maksudnya celana dan bajunya ketat. Tubuhnya jelas sekali karena ketat itu. Ya, mereka keluar. Keluar seperti ada kebakaran didalam. Padahal sebelumnya mereka sedang nyantai hebat sampai berguling-guling. Dan sampailah, sampailah mereka diruangan tempat saya berdiri. Berdiri didekat wanita yang tadi saya lihat sendiri dari jalan.Lalu saya berkata. Tapi berkata dalam hati saya. "Apakah orang lima ini yang akan beramai-ramai mencukur saya?"Tentu mereka tidak akan menjawab. Karena itu mereka takkan pernah dengar. Tapi mereka berkata;

"Ayo mas pijat dulu aja" Itu bukan jawaban dari pertanyaan saya dalam hati tadi. Tapi, itu tawaran. Tawaran dari wanita yang sedang pegang kartu tadi, yang agak gemuk. Sepertinya dia pimpinannya. Maaf mba saya nebak-nebak ....Saya tersenyum. Belum sempat saya berkata-kata. Dia sudah ngomong lagi. Wanita berempat yang keluar dari kamar belakang semua terfokus sama saya.

"cuma 50 ribu aja mas...!!" Saya tersenyum, sambil diam kebingungan. Mereaka semakin gencar menawarkan. Menawarkan pijatnya. Tapi wanita yang tadi tetap yang menawarkannya sebagai koordinator."Ayo mas...ke dalam dulu aja (maksudnya kamar belakang tadi itu) potongnya nanti"OOOhh...mungkin wanita-wanita itu keluar akibat panggilan si wanita tadi itu supaya saya bisa memilih. Mana wanita yang saya pilih untuk memijatnya.

"50 ribu itu...sama....'itu'-nya mba?Itu saya yang berkata. Memaksakan tepatnya. Tapi, 'itu'-nya tidak perlu saya artikan. Biar kalian yang berfikir. Selamat berfikir 'itu'-nya hehhe...
"OOOhh.. yo ora,,,(itu bahasa jawa, artinya ooh ya nggak). 'Itu'nya nanti di dalam (maksudnya didalam ngomongin harga 'itu-'nya sambil dipijat)".
"ooowhh...kirain mba heheh"
"Tapi, sekarang saya lagi nggak bawa uang banyak mba, besok-besok aja yah" Itu dua-duanya saya yang ngomong.
"ehhhhh...yo wis. Ren iki potongi..!! Itu dia yang ngomong, pake bahasa jawa artinya; ehhh ya sudah.
"Ren, ini potongkan..!" Uwwh dia ngomong begitu dengan mimik yang sedikit penuh penyesalan. Si Ren dipanggil. Dia wanita yang di dalam kamar tadi yang bagian dari berempat. pake warna merah t-shirtnya. pake jeans biru warna celana pendeknya yang 20 cm diatas lutut. Tapi, nggak tau, apa kepanjangannya? Reni? Rendi?Reno? atau apa.Akhirnya, saya duduk. Duduk di tempat utnuk dipotong rambut. Dikasih selimut biar potongan rambutnya nggak kena baju. Dikasih jepitan juga. wanita yang pegang kartu tadi tetap duduk ditempatnya. Sekarang dia dibelakang saya. saya tahu karena dia ada dalam cermin. Yang bertiga, yang dalam kamar tadi duduk dipinggir saya. Sungguh ini suasana yang bikin saya grogi. Mulailah rambut saya seedikit demi sedikit dipotongi. Dipotong oleh gunting awalnya. Tapi, saya pengennya plontos. Maka, dia, dia wanita pecukur itu menggantinya. mengganti dengan mesin cukur. Sepertinya dia kaku. Belum terlalu lihai. Tapi, biarlah. Sudah nanggung duduk ditempat cukurnya. Saya arahkan sesuai keinginan style rambut saya.Ditengah-tengah, disaat saya masih dicukur. Disaat saya grogi juga karena empat wanita lainnya duduk disekeliling saya. Dan pastinya melihat saya. Tiba-tiba wanita yang pegang kartu tadi memanggil seseorang. Seseorang yang ada dijalan. Seseorang yang pake motor. Dan seseorang lainnya lagi yang diboncengnya pake motornya.

"Hei...!! rene se' noh...!!!" Itu bahasa jawa, artinya: hei..sini dulu dong..!!Saya tidak tahu apa jawaban yang diberikan seseorang dijalan itu. Sepertinya, dia sedikit menolak karena melihat ada orang di dalam. Ada saya maksudnya. Tapi, wanita ini, wanita yang pegang kartu tadi sedikit memaksa untuk masuk dan meyakinkan; "ora opo-opo, iki mung motong tok" wanita dan seseorang tadi pasti orang jawa. Itu lihat kamu bahasanya, artinya: "nggak apa-apa, ini cuma motong doang ko".

"Ayo mas..!!" Itu ajakan si wanita untuk seseorang yang dibonceng. Sepertinya, wanita itu kenalnya sama yang bawa motornya saja. yang diboncengnya nggak. Itu ajakan si wanita itu setelah yang bawa motor masuk dan dia duduk disampingnya. Itu artinya dibelakang saya. Itu terlihat dicermin.
"Ayo..!!" Itu suara si lelaki yang bawa motor. Ngajak temennya masuk. Lalu si wanita tadi mengajaknya juga seperti yang diatas. kahirnya masuk juga. Masuk dalam dia. Dia seseorang yang dibonceng. Tapi tidak langsung dudukm karena kursi sudah penuh. Penuh oleh temennya yang bonceng. Oleh wanita yang dari tadi duduk disana yang pegang kartu yang sekarang sudah berdampingan dengannya yang bawa motor. kursi lainnya di duduki wanita yang tadi pas saya kesana pada di kamar. Dia seperti kebingungan. Kebingungan dibelakang saya sambil pura-pura pegang HP. Melihat tingkahnya lelaki yang memboncengnya coba menenangkan:
"sanatai wae.."Si wanita pemegang kartu juga begitu:
"iya santai mas...ya ini" Ini itu dia sambil menunjukkan wanita-wanita yang siap memijatnya.Lelaki itu sepertinya tetap mencoba cool. Dia sesekali terlihat tersenyum. Masih sambil berdiri itu.
"Ayo mas ke dalam dulu aja..!!" Tawar si wanita yang megang kartu itu. Sepertinya dia memang jadi moderator petang itu. Lalu dia memanggil Pipit.
"Pit ini masnya..!!!" Sepertinya wanita yang bernama Pipit sudah didalam. Dan dari dalam dia bersuara:
"Oia mari mas..."Akhirnya, lelaki itu-pun masuk kedalam. Kedalam kamar yang ada dibelakang tadi.

Wanita yang men-cukur saya mulai membersihkan bahu dengan sikat. Itu artinya sudah selesai saya dicukur. Lalu saya pun pergi. Pergi setelah ngasih 10 ribu ke dia dan melintas melewati wanita moderator yang dipinggirnya ada laki-laki. Dan saya berkaca-kaca. Di depan kaca cermin. Itu sudah dikontrakan. Ohhh... kaget sedikit saya. Cukurannya bergelombang. Nggak rata. Itu artinya ada yang masih panjang dan ada yang sudah pendek. Terpaksa saya potong kembali yang panjangnya. untuk saya samakan dengan yang sudah pendek. Biar sama, biar rata. Dipotong sendiri. Bukan di salon itu lagi. Dan kali ini pake gunting saya.

4 komentar:

  1. Sebelum saya berkomentar, saya pengen ngasih Mang Aris masukan nih. Perlu dipahami bahwasannya masukan ini bukan mengindikasikan bahwa blog saya dan tulisan saya jauh lebih bagus dari blog Mang Aris loh. Oke mang, sepaham ya? Semoga sepaham :D

    Ini masukannya:

    1. Itu jenis font yang ditulis kapital membuat lelah mata, Mang! Saran saya, mendingan Mang Aris konsisten di satu jenis font saja di blog ini. Arial, Verdana, atau Trebuchet bisa jadi pilihannya.

    2. Saya curiga, Mang Aris nulis tapi ga dibaca lagi? :D Itu terbukti dari beberapa kali pengulangan kata dan kesalahan ketik.

    3.Gimana kalau tiap paragraf di kasih spasi, soalnya pas saya baca, kesannya penuh banget.

    Masukan di atas semata-mata supaya pembaca blong (oengunjung) lebih nyaman ketika membaca cerita-cerita Mang Aris kok.

    Mang, itu mungkin yang dinamakan Salon++
    Banyak kemajuan nih Mang Aris sekarang :D

    BalasHapus
  2. terimakasih pak novan,sebuah masukan yg super sekali. ini kemudian akan jadi pijakan saya kedepan. karena open source, coz ketika sy bgeblog diwarnet mang jd rubah. akan segera sy perbaiki. sekali lgi masukan yg super terimakasih

    BalasHapus
  3. Ngebacanya kayak lagi ngomong sambil makan gorengan yang panas. Membahana dan sukses bikin saya ketawa maksimal :D

    BalasHapus
  4. makasih mba iyya, hati keselek, selalu sedia air sebelum haus.

    BalasHapus