5 Okt 2010

"Anarkisme bukan Demokrasi"

oleh: Aries Riesnandar
(penulis bukanlah pengamat atau pakar)

Kebebasan berpendapat merupakan hak setiap bangsa yang juga merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. hal inipun yang menjadi agenda reformasi yang digulirkan tahun 1998. Di era sebelumnya (orde baru) kebebasan tersebut menjadi hal yang "tabu" bagi warga Indonesia. adanya kebebasan ini memberikan harapan baru bagi bangsa Indonesia untuk tidak perlu takut lagi dalam mengungkapkan tuntutannya. salah satu bentuk dari kebebasan berpendapat ini adalah melalui unjukrasa atau demonstrasi.

Seiring dengan berjalannya masa reformasi, aksi demonstrasipun kerap kjali bermunculan. aksi yang terjadi tidak hanya di jakarta sebagai pusat pemerintahan, melainkan sudah menjamur keberbagai daerah-daerah. penyebab demonstrasipun bermacam-macam mulai dari penyikapan terhadap kebijakan pemerintah sampai pada demonstrasi memperingati hari-hari tertentu.
Namun, kebebasan berpendapat dalam bentuk demonstrasi ini terkadang tidak terkontol dan malah menimbulkan perilaku yang anarkis. hal ini seperti yang terjadi di gedung DPRD Medan, sumatra utara. Sarana dan prasaran disekitar aksi demo dirusak, bahakan yang lebih disessalkan lagi adalah tewasnya Azis Angkat yang menjadi ketua DPRDnya.Tentunya, bukan kebebasan berpendapat seperti ini yang menjadi bagian dari demokrasi dan yang selalu digaung-gaungkan di era reformasi ini. walaupun diberi kebebasan, namun aturan-aturan yang memang berlaku tetap harus diindahkan, seperti tidak merusak lingkungan sekitar, mengganggu ketentraman umum apalgi sampai menghilangkan nyawa.

Secara psikologis, orang yang melakukan demonstrasi akan memiliki emosi yang lebih dibandingkan diluar aksi demo.kondisi ini dipengaruhi oleh persamaan tujuan yang mereka suarakan dalam demonstrasi tersebut. Jika emosi tersebut tidak terkendali dan sesuatu yang disuarakan mereka tidak dikabulkan, maka tidak mustahil jika demonstrasi tersebut akan berbuah anarkis.

Oleh karena itu, untuk menanggulangi kondisi diatas tentunya dibutuhkan pendekatan psikis yang bisa menjegah terjadinya hal-hal yang berbau anarkis. Hal pertama yang harus dibangun adalah menjalin hubungan komunikasi yang harmonis anatara pendemo dan pihak yang didemo. Jalinan komunikasi ini bisa dilakukan dengan melakukan musyawarah anatara 

0 komentar:

Posting Komentar