2 Sep 2012

Tuhan Segala Kelamin



Tuhan yang maha kuasa, pencipta jagat raya beserta isinya,
Izinkanlah kami pada hari ini untuk menghaturkan sembah sujud,
Kepadamu yang tak berwujud…
Hari ini kami berkumpul bersama dalam upacara memperingati kemerdekaan bangsa,
Yang meskipun sedang dilanda banyak prahara,
Namun tetap kami cinta

Kepada tuhan yang tidak pernah menggigil dengan nama dan cara apapun kau dipanggil
Berkatilah kami dengan kasih sayangmu yang tak pernah semu
Sepanjang waktu…
Kuatkan jasmani dan rohani kami, agar kami dapat selalu berbagi dan berbakti…
Tumpuklah kesabaran pada hati kami, supaya kami tidak mudah menyerah meski hidup semakin susah…
Selalu dorong kami untuk bergerak maju, dalam menuju cita-cita dan harapan yang kami tuju

Jadikanlah kami orang-orang yang pandai bersyukur, sehingga tak satupun dari kasihmu luntur
Didiklah kami supaya menjadi orang yang penyayang, sehingga tak ada lagi kemarahan dan pentungan yang melayang…

Kepada tuhan yang maha pengampun, meski dosa kami telah berjibun…
Ampuni dosa-dosa yang tak henti kami produksi, engkaupun sadar,
kami sedang belajar…

Terima dan sayangi para pahlawan, kerabat serta teman-teman yang telah mendahului kami, untuk bersua denganmu ditempat nun jauh nan sunyi…

Ampuni dan didiklah saudara-saudara kami yang masih gemar memaki
Dan mencomot namamu untuk melakukan hal-hal keji…

Kepada tuhan segala kelamin, hanya kepadamu kami bercermin, dan
Hanya didepanmu kami tak merasa asing…

Terima, dan pertimbangkan doa kami…


17 Agustus 2012, dibacakan dalam rangka memperingati HUT RI di Ndalem Notoprajan Yogyakarta




16 Jun 2012

Polandia sama dengan Polisi

Polandia. Mendengar kata ini, orang akan tertuju pada sebuah negara. Bendera dan lambangnya hampir sama dengan Indonesia. Perpaduan merah dan putih ada di bendera. Putih dan merah untuk Polandia. Elang putih mirip garuda juga tersemat sebagai lambang resmi negara. Meski lambang hampir sama, secara geografis, kedua negara ini cukup berjauhan. Polandia di Eropa. Indonesia di Asia. 

Kedua negara ini sedang mengalami hiruk-pikuk tersendiri di dalamnya. Lebih spesifik lagi, hiruk-pikuk terletak dalam aspek olahraga. Indonesia sedang di ramaikan oleh proyek pembangunan yang akan dijadikan tempat pelatihan, pendidikan serta sekolah olahraga. Semua jenis olahraga rencananya akan di pusatkan disini. Ya, disinilah tempat yang di sebut Hambalang atau wisma atlit Hambalang atau Bukit Hambalang. Untuk penyebutan terakhir, saya pernah baca dari sebuah majalah mingguan, katanya untuk menyaingi Malaysia yang telah leih dulu mempunyai pusat olahraga dengan nama bukit Jalil.

Hiruk-pikuk yang terjadi soal Hambalang ini bukan karena ada perhelatan olahraga, entah pelatihan atau kompetisi, akan tetapi proyek yang di bangun diatas tanah sekitar 32 hektar ini, sekitar 1000 meter perseginya amblas. Tapi ini belum seberapa. Ada yang lebih ambalas lagi. Uang negara disini diperkiran di curi oleh beberapa orang yang terlibat dalam proyek ini. Dana yang diajukan Rp. 2,5 triliun (yang saya baca dan dengar dari pelbagai media) dinilai banyak pihak penuh dengan ketidakjelasan. Bahkan menurut M. Nazaruddin sering mengungkapkan di media bahwa dana itu mengalir ke kongres partai Demokrat di Bandung. 


Itu hiruk-pikuk yang terjadi di Indonesia; kental dengan unsur politik (tidak sehat) dan penuh dengan kejahatan korupsi. Berbeda dengan hiruk-pikuk di Polandia. Dunia sekarang sedang tertuju kepadanya. Jutaan pasang mata memelototinya. Tak peduli waktu. Ya, disanalah kompetisi sepak bola antar negara-negara Eropa di gelar. 


Jika proyek olahraga (Hambalang) diperkiran menelan banyak kerugian untuk negara, sebaliknya pagelaran kompetisi Europa malah meningkatkan pendapatan untuk warganya dan tentu untuk negaranya. Apalagi pagelaran ini berlangsung selama hampir satu bulan. Hunian hotel melonjak tinggi. Kuliner disantap jutaan fans dari negara yang bertanding bahkan yang tidak. Transportasi juga begitu. Singkatnya, bagi Polandia, ini banyak mengundang berkah. Berbeda dengan Hambalang yang sudah menelan musibah.

"Ooh...kenapa tidak ada Polandia disana?" 

Tiba-tiba Donna menghela nafas. Mengerutkan dahinya. Bersandar lunglai dengan kaki terselonjor bebas. 

"Ini sungguh sangat merugikan. Duit ludes".

Sepertinya dia memang sudah muak dengan itu. Umpatan-nya terus menganga. Meski dia sedikit memaksa untuk pasrah. Dia terus bercerita bagaimana itu terjadi. Mendengar disampingnya; seseorang yang dianggap ibu olehnya juga oleh teman-temannya. Mendengar di depannya; seorang teman yang ia bawa ke tempat orang yang di sampingnya. Juga ada saya. Juga ada penghuni rumah yang duduk disampingnya. Sesekali orang yang saya sebut terakhir ini mencoba menghibur dia.

"Rezeki bisa dicari lagi apalagi kamu masih muda, masih kuat gitu lho. hehe!"

"iya sih, tapi kan nggak mesti dapat. Apalagi kalau ada Polandia atau temannya". 

"Ya kamu pinter-pinter aja Na dan hati-hati agar nggak terjadi lagi kejadian ini!"

"iya mba, pasti itu. Tapi yang aku sesalkan kenapa waktu itu nggak ada Polandia. Padahal deket lho dari tempatnya".

"Lha emang apa aja yang di bawa Na?"

"ya semuanya; dompet dan surat-surat, Hp, mike-up sama.... kondom. Hehehe"

"Hahahaha" semua tertawa.

#SalamEmber





30 Mei 2012

Sundel Bolong di Siang Jum'at

sumber:http://unded.deviantart.com/art

Waktu itu, tidak tahun kapan pastinya. tanggalnya dan jamnya. Empat tahun silam kira-kira saya lupa. Tapi tidak kejadiannya. Memang tak pernah saya tulis. Dalam diary atau komputer teman. Tapi hanya tersimpan dalam memory. Jika dimasukkan dalam katagori hari, itu masuk hari Jum'at.

Dan ketika Jogja yang tidak punya kos itu, saya kesana kemari. Kesana ke kos teman saya. Kemari juga ke kos teman saya lainnya. Itulah kenapa saya bilang kepada dirimu yang hendak mapir ke tempatmu wahai kawan : "e...iya kawan,  kosmu dimana? kapan aku maen kesana ya?"
Lalu saya menjawab:"Kosku yang terhitung baru 15 unit, kamu maunya yang didaerah mana?"
Masih ingat tatapanmu kala itu, wajahmu terlihat kaget bahkan hampir pingsan ketika mendengar saya mempunyai banyak kos-an.

Jum'at menjadi hari wajib untuk mendengarkan khutbah bagi saya sebagai seorang muslim. Karena itu saya selalu tinggal di kos yang dekat dengan tempat mendengarkan khotib. Karena itu, saya selalu pergi untuk berada di Condong Catur, yang memang masjidnya berada disamping kos-kosan tempat dimana saya akhirnya berada kala itu. Ada 6 kamar kos disana. 3 lawan 3 saling berhadapan.saya bisa tidur dimana saja. 

Malam Jum'at yang cerah. Jogja terbuat dari bintang-bintang yang enak dipandang kala itu. Dipandang oleh saya dan teman-teman saya dari dasar lantai kos.Hilang sudah aura mistismu wahai malam jum'at. Tengah malam yang katanya kau lebih angker, kami bahkan semakin ceria. Tak ada rasa seram-pun di bulu kuduk kami. Itu karena perputaran kartu domino yang sering dikocok oleh si Haji yang sudah penuh dengan coretan kopi di wajahnya. Sampai pagi. Sampai bintang menghilang dan diganti mentari. Sampai saya-pun tidur yang tidak ada gangguan mimpi.

"Aoommhh..." meski terasa santai saya terasa dibangunkan olehmu. Tapi tetap tidak tenang. Dan akhirnya makin tidak tenang. Itu jam sudah lebih 5 menit dari angka 12. Kenapa kalian wahai temanku,  tidak melambatkan jarum jam itu sehingga tetap dijam tujuh pertama kita memajamkan mata. Lihatlah sekarang! temanmu yang satu ini jadi terburu-buru. Tatapan malas dan lemas menuju ke arah mesjid dari balik garden jendela sambil jongkok dan menunduk.

Oh sebagian orang mulai berbondong-bondong berangkat menuju masjid. Itu mereka yang sedikit malas. Karena kalau yang rajin sudah dari jam setengah dua belasan. Dan yang rajin itu memang sudah ada tapi dalam sekala kecil. Sudah pada duduk di masjid. Mungkin dzikir. Mungkin juga ngantuk.

Malu-malu saya keluar perlahan-lahan. Menuju toilet di pinggir kiri kos. dekat dengan masjid pula. Untuk berwudlu. Saja. Tanpa mandi. Kenapa?karena takut guyuran airnya menggangu orang yang sedang dzkir.

Tidak. Tidak berangkat saya langsung ke mesjid. Karena tau saya kalau celana ini yang sedang dipakai adalah tidak sah menurut aturan syariah jika dipakai shalat. Dikampus dikos, ditrotoar, diangkot, dan dimotor teman yang jarang di cuci. Itu sudah tiga bulan belum saya cuci. Akibatnya, warna hitam jeans itu berubah setelah mendapatkan campuran warna cokelat dari debu-debu jalanan. Itu karenanya saya yakin jeans yang selama ini menemani saya kemana-mana sudah tidak suci lagi. Dan aturan mengharuskan saya untuk mensucikan dulu itu celana jika saya tetap ingin shalat dengan celana ini. Saya tidak mau berpikir shalat jum'at dengan celana basah. Maka dari itu, saya harus pinjam. Tapi orang yang punya kamar yang saya tiduri sudah berangkat. Maka saya langsung cari saja sarungnya, izin minjamnya nanti.

Ooh...sarung ternyata kamu ada di samping lemari. Tergeletak dibawah dengan lipatan yang tak jelas bentuknya.
"Untuk jadwal khatib kali ini...."
Ooh... suaramu wahai takmir mesjid ! lihatlah saya dibuat terburu-buru. Mengambilnya saya langsung ke sarung itu. Semakin terburu-buru juga saya melipatnya dengan lipatan yang nggak jelas juga diatas perut. Lalu berangkatlah dengan setengah berlari. Itu semua saya lakukan karena suaramu tadi wahai takmir mesjid !, akan mengakibatkan khotib berdiri lalu berkhutbah.

Ini saya sudah berada dihalaman mesjid, setelah kakinya melepas kedua sandal. Sudah banyak orang-orang duduk-duduk di halaman ini. Sepertinya banyak yang lebih nyaman diluar daripada harus di dalam mesjid. Padahal isi dalam mesjid masih ada yang banyak kosongnya. Tapi saya tidak. Untuk kali ini. Saya ingin sekali khusyu. Aminn. Sekalian biar bisa mendengar dan melihat dengan jelas sang khatib berkhutbah.

Ini saya yang kakinya sudah di dalam. Badan dan hatinya juga begitu. Saya ambil posisi di tengah ruangan mesjid, karena itu nampak masih kosong. Hanya ada segelintir orang disana. Tiga baris didepan sudah terisi begitu pula dua baris paling belakang.

Shalatlah saya. Itu yang dianjurkan ketika masuk mesjid. Namanya shalat tahiyyatulmasjid. Dua raka'at lamanya. Sendiri saya melakukannya di tengah masjid itu. Sepertinya orang lain sudah. Pelan-pelan saya melakukannya. Seperti khusyu sekali sepertinya. Mengangkat kedua tangan, membaca kalimat takbir dan menaruhnya diatas dada. Lalu turun ruku setelah membaca Al-fatihah dan surat An-nas.

Dari kepala sampai perut turun kebawah. Saya coba luruskan selurus-lurusnya sampai mencapai kira-kira 90 derajat. Kedua telapak tangan ditempel ketat di bagian lutut kana kiri. Ini dia; saya sedang ruku. Khusyu sekali rasanya.

Tapi, rasa khusyu itu tidak berjalan cukup lama. Sebentar, apalagi memang kalau ruku jarang ada yang lama. Bukan, ini bukan karena durasi ruku yang memang sedikit. Bahkan ini lebih cepat dari seharusnya.

Kala itu, tiba-tiba angin berhembus terasa lebih kencang dibanding sebelum ruku. Rasanya semakin menembus ke dalam. Semakin menembus, semakin dingin terasa. Buyar sudah kekhusyuan saya. Akhirnya, saya coba mencari tahu; kenapa ini bisa terjadi? kenapa pas ruku hembusannya makin kencang? dan setelah di rasa- rasa ternyata sumber angin datangnya dari belakang. Ya dari bagian pantat. Ohh tuhan adapakah dengan ini semua? Apakah ada angin topan?tornado?atau puting beliung?

Tidak, itu tidak mungkin, kalau betul terjadi, pasti orang-orang di mesjid bakal heboh. apalagi tornado,itu sepertinya hanya diperuntukan untuk Amerika. Debu-debu pasti akan banyak yang masuk jika ada puting beliung. Makanya saya yakin itu bukan.

Saya akhirnya kembali memikirikan rasa dingin ini. Semakin lama semakin dingin. Lumayan menusuk. Bahkan sampai bagian depan. Ada apa ini? Penasaran. Perlahan tangan saya bergerak kebelakang. Ternyata dia sedikit malu-malu. Untung ada kamu, dingin. Malu itu hilang meski sedikit.

Tangan saya mulai bergerak kebelakang. Sedang yang kiri tetap dalam posisi ruku. Bagian bokong yang mulai si kanan raba. Kanan berfirasat bagian inilah sumber dari kedinginan itu. Dari bagian atas si kanan memulai. Tidak ada yang aneh, sarung kusut dengan ganjelan celana dalam di dalamnya. Si kanan mulai penasaran. Apa sebenarnya yang terjadi? Turunlah dia kebagian bawah sedikit. Perlahan-lahan. Terus kebawah setelah memastikan bahwa bagian bokong tidak terjadi apa-apa. Ketika telapak si kanan perlahan-lahan kebawah, kira-kira 5 cm dari bagian bokong, si kanan terperosok.
"ooh Tuhan adaapakah ini?"

Ternyata, sarung ini bolong. tepat di bawah bokong. Inilah sumber rasa dingin itu. Cukup besar. Telapak tangan saya pun masuk ke bolong itu.
"Kenapa ini tidak terdeteksi sebelumnya?"
"Ini-kah akibat dari terburu-buru?"
Sudah-lah, itu saya diskusikan nanti. bersama teman-teman, dan tentunya teman pemilik sarung.
Sekarang, inilah yang saya harus diprioritaskan: keluar dari mesjid karena shalat saya-pun sudah tidak sah.

Hati saya berkecamuk; jemaah mesjid yang dibelakang saya pasti menertawakan bolong sarung ini. Kecuali mereka yang tidur. Tapi pura-pura tidak tahu, shalat saya juga sudah tidak sah.
"Langsung keluar atau lanjutkan shalat yang baru 1 rakaat?langsung keluar atau lanjutkan?langsung keluar atau lanjutkan?"

Entah dapat pilihan jawaban dari mana, tiba-tiba saya memilih opsi untuk keluar. Langsung. tanpa meneruskan shalat. Perlahan berdiri dari ruku. Berbalik arah dengan senyum dihati. Malu yang terburu-buru saya melangkah. Tanpa melirik orang-orang dibelakang yang saya lalui.
Ampuni hambamu ini Tuhan, menyembahmu tidak sampai akhir.






25 Mei 2012

Komunitas Waria Sampaikan Aspirasi ke Anggota Dewan

kaum waria antusias berdialog dengan anggota DPRD DIY (Foto: Sheila)
Keberadaan kaum waria masih dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarkat. Seringkali mereka dicap dengan stigma negatif dan diberlakukan secara diskriminatif. Padahal, sebagai bagian dari bangsa, merekapun memiliki hak yang sama. Mereka berhak mendapatkan perlakuan yang aman, hak mendapatkan pekerjaan yang layak dan hak untuk mengeluarkan pendapat.  

Untuk mengetahui persoalan-persoalan yang dihadapi kaum waria, Rabu (16/05/2012), Komisi D DPRD DIY bekerjasama dengan Ikatan Waria Yogyakarta (IWAYO) menggelar acara dengan tema; Penyampaian Aspirasi IWAYO dengan komisi D DPRD Provinsi DIY dalam Kegiatan Reses II 2012.

Acara yang dilaksanakan di kantor Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) ini menghadirkan beberapa narasumber, diantaranya; Nuryadi (anggota DPRD dari komisi D Provindi DIY), Fathan (Dinas Sosial Provinsi DIY), Basuki (Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi DIY) dan Shinta Ratri (Ketua IWAYO).

Keberadaan wakil pemerintah DIY disambut antusias oleh sekitar 100 waria yang hadir dalam acara tersebut. Hal ini terlihat ketika para peserta diberikan ruang untuk berbagi dan berdiskusi dengan wakil rakyat tersebut. Sebagian besar peserta mengeluhkan pelbagai persoalan, terutama menyangkut pekerjaan.

Cassandra, waria asli Yogyakarta mengatakan bahwa pekerjaan bagi kaum waria merupakan hal yang cukup sulit dan banyak kendala. Menurutnya, meskipun teman-teman waria memiliki keterampilan dan skill tertentu, belum tentu ada perusahaan atau instansi yang bisa mempekerjakannya.

“Saya berharap agar pemerintah bisa memberikan pelatihan kepada kami, supaya kami bisa lebih mandiri. Kemampuan dan skill teman-teman tidak hanya dalam bidang salon atau merias, tapi ada juga yang pintar memasak, budidaya perikanan dan sebagainya. Oleh karena itu, kami berharap agar agar pemerintah bisa memberikan fasilitas berupa tempat berkumpul yang nantinya bisa kami jadikan sebagai tempat pengembangan kemampuan serta skill yang kami miliki” harap Cassandra.

Menjawab keluhan serta harapan dari komunitas waria, Nuryadi, anggota DPRD dari komisi D Provindi DIY mengatakan bahwa setiap warga termasuk komunitas waria berhak atas alokasi anggaran yang akan dikeluakan oleh pemerintah. Alokasi ini tentunya harus melalui prosedur serta persyaratan yang berlaku.

adapun untuk soal pekerjaan, Basuki, pegawai dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi DIY menyatakan siap untuk membantu komunitas waria dalam membantu memberikan pelatihan serta keterampilan kerja. Menurutnya, bantuan pelatihan ini tidak golongan masyarakat, akan tetapi yang lebih penting adalah adanya kemauan, motivasi serta prosfek dari pelatihan yang diberikan.



13 Mar 2012

Supir Sangar: Melo nan Galau


Saatnya saya pergi kemudian. Itu berlaku setelah saya pulang dari tempat domisili fisik. Maka itu lebih tepat lagi saya pakai kata tambahan lagi atau kembali. Di suatu petang itulah saya pergi lagi atau kembali ke itu tempat domisili fisik. Petang itu dibuat dari gerimis diperjalanan, berbagai makanan (maaf  kalau tidak sesuai dengan EYD yang dari itu) dengan rasa yang sebenarnya ingin perginya lagi beberapa hari kemudian. Lagi-lagi juga dengan rasa tanda Tanya; “diharapkan jangan sama orang sana ya!”

Tiba-tiba saya dihadapkan dengan angkot. Di sebuah jalan yang membelah masjid agung dengan kantor kecamatan juga beberapa kios produk kerajinan tangan khas daerah ini yang memanjang 2 km-an. Padahal saya cuma melambaikan tangan kiri ke dalam jalan. Saya yakin supirnya tahu kalau saya ingin menaiki mobilnya. Meski nggak terlalu bagus. Ya, supaya dia juga dapat uang dari saya. Dan saya yakin dia nggak tahu uang yang saya kasih nanti ke dia, dia nggak tahu dari hasil apa.

Mungkin karena sudah menjelang malam, sepi sekali angkot ini. Hanya ada saya yang duduk dibelakang kursi supir dan ibu-ibu yang duduk disebelah supir yang tanpa kondektur itu. Saya tahu itu setelah saya masuk didalam. Jadi ini fakta. Dan mungkin karena sepi dan sudah menjelang malam itu pula si supir menyalakan dvd player yang ada disamping kiri stirnya.

Supir ini terlihat masih muda. Kalau dia punya keinginan masuk Timnas sepertinya bisa masuk ke Timnas U-23. Atau bahkan presenter sebuah program berita tv yang selalu mensyaratkan batas usia maksimal 24 tahun. Tapi, untuk presenter ini sepertinya cukup berat, karena ada syarat lain; penampilan harus menarik. Menarik agar pemirsanya betah melihat program berita karena yang membawakannya juga betah dilihat. Dari sudut manapun (kecuali dari bawah) angle kamera menyorot dia tetap menarik untuk dilihat. Dan penilaian saya, syarat ini cukup sulit untuk dilalui sang supir. Maaf….

16 Nov 2011

Pijat Rambut

Disuatu sore yang pertengahan November ditahun dua ribu sebelas yang sudah melewati tanggal sebelas, saya terbang kesana kemari. Tapi, maaf merpati saya tidak bisa bareng sama kamu. Kesana kemarinya saya bersama motor matic. Jadi, saya terbangnya bersama itu matic motor. Motor hasil pinjeman. Itu saya gunakan setelah saya dapat izin. Dari dia. Dia yang teman saya satu kamar saat itu, satu daerah bukan saat itu saja, beda kampus sampai sekarang dari dulu.

Karena disuatu sore yang pertengahan November ditahun dua ribu sebelas yang sudah melewati tanggal sebelas, mentari sore diselimuti awan hitam. Sehitam asap knalpot truk yang saya salip dari belakang. maaf pak supir truk saya mengagetkanmu dari belakang...!!! Bukan saya nggak sopan, tapi asap yang kau keluarkan. Karena diselimuti awan hitam, itu mendung artinya. Berarti, biasanya, jika Tuhan menghendaki bakalan hujan. Sepertinya "November Rain-nya" GnR memang untuk saya.

Oh dia yang cuma punya satu kesamaan daerah. Oh matic yang saya ajak terbang kesana kemari. Oh supir truk yang saya salip. Maaf kan saya. Dan terimakasih untuk GnR yang ngasih soundtrack walau belum hujan. Ini semua karena rambut saya. Rambut yang tipis ini. yang ada di bagian paling atas kepala. Kepala yang atas. Entah kenapa saya pengen selalu memotongnya.Memotong rambutnya. Bukan kepalanya. Ini soal, mungkin fashion. Juga kenyamanan. Bagi saya, 3 cm panjang rambut sudah sangat panjang. Saya sukanya 1 cm. Sedikit tafaul sama Karim Benzema.

Disuatu sore yang pertengahan November ditahun dua ribu sebelas yang sudah melewati tanggal sebelas, karena itulah saya mutar-muter. Mutar-muter untuk cari salon. Ke jalan Gejayan, saya cari. Ternyata, salon itu tidak saya ketemukan wahai Ihsan. Itu dia manusia yang sehari sebelumnya saya tanya;
"San, kamu dicukur dimana?yang nyukurnya gimana?"


5 Nov 2011

"sarjana" Harus Diakhirkan

Mendapat predikat sarjana menjadi kebanggaan tersendiri bagi kebnyakan orang. Semakin tinggi level sarjananya maka akan semakin tinggi pula status sosialnya. Ini adalah konstruk. Apalagi jika konteksnya berada dalam lingkungan kampung dengan masyarakatnya yang masih terbilang langka berpendidikan tinggi.

Mereka yang menyandang gelar sarjana akan memiliki tambahan nama yang mengiringinya.Dulu, untuk strata 1, gelar kesarjanaan disisipkan didepan nama seseorang; Drs atau Ir lalu nama. Sekarang, gelar itu berpindah kebelakang nama sesuai dengan spesifikasi kesarjanaan yang diperoleh. Ada S.Pd untuk sarjana pendidikan, S.Sos untuk sarjana politik dan lain-lain. Ini memang bukan sebatas gelar semata. 


Dalam sebagian konteks, gelar ini cukup berpengaruh dan bisa menjadi senjata ampuh. Megawati Soekarno putri pernah dipersoalkan ketika mencalonkan diri menjadi presiden. Hal ini dikarenakan gelar kesarjanaan Megawati dipertanyakan oleh sebagian kalangan. Sedangkan, syarat menjadi presiden RI minimal harus S1.