Tampilkan postingan dengan label Bicara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bicara. Tampilkan semua postingan

2 Sep 2012

Tuhan Segala Kelamin



Tuhan yang maha kuasa, pencipta jagat raya beserta isinya,
Izinkanlah kami pada hari ini untuk menghaturkan sembah sujud,
Kepadamu yang tak berwujud…
Hari ini kami berkumpul bersama dalam upacara memperingati kemerdekaan bangsa,
Yang meskipun sedang dilanda banyak prahara,
Namun tetap kami cinta

Kepada tuhan yang tidak pernah menggigil dengan nama dan cara apapun kau dipanggil
Berkatilah kami dengan kasih sayangmu yang tak pernah semu
Sepanjang waktu…
Kuatkan jasmani dan rohani kami, agar kami dapat selalu berbagi dan berbakti…
Tumpuklah kesabaran pada hati kami, supaya kami tidak mudah menyerah meski hidup semakin susah…
Selalu dorong kami untuk bergerak maju, dalam menuju cita-cita dan harapan yang kami tuju

Jadikanlah kami orang-orang yang pandai bersyukur, sehingga tak satupun dari kasihmu luntur
Didiklah kami supaya menjadi orang yang penyayang, sehingga tak ada lagi kemarahan dan pentungan yang melayang…

Kepada tuhan yang maha pengampun, meski dosa kami telah berjibun…
Ampuni dosa-dosa yang tak henti kami produksi, engkaupun sadar,
kami sedang belajar…

Terima dan sayangi para pahlawan, kerabat serta teman-teman yang telah mendahului kami, untuk bersua denganmu ditempat nun jauh nan sunyi…

Ampuni dan didiklah saudara-saudara kami yang masih gemar memaki
Dan mencomot namamu untuk melakukan hal-hal keji…

Kepada tuhan segala kelamin, hanya kepadamu kami bercermin, dan
Hanya didepanmu kami tak merasa asing…

Terima, dan pertimbangkan doa kami…


17 Agustus 2012, dibacakan dalam rangka memperingati HUT RI di Ndalem Notoprajan Yogyakarta




5 Nov 2011

"sarjana" Harus Diakhirkan

Mendapat predikat sarjana menjadi kebanggaan tersendiri bagi kebnyakan orang. Semakin tinggi level sarjananya maka akan semakin tinggi pula status sosialnya. Ini adalah konstruk. Apalagi jika konteksnya berada dalam lingkungan kampung dengan masyarakatnya yang masih terbilang langka berpendidikan tinggi.

Mereka yang menyandang gelar sarjana akan memiliki tambahan nama yang mengiringinya.Dulu, untuk strata 1, gelar kesarjanaan disisipkan didepan nama seseorang; Drs atau Ir lalu nama. Sekarang, gelar itu berpindah kebelakang nama sesuai dengan spesifikasi kesarjanaan yang diperoleh. Ada S.Pd untuk sarjana pendidikan, S.Sos untuk sarjana politik dan lain-lain. Ini memang bukan sebatas gelar semata. 


Dalam sebagian konteks, gelar ini cukup berpengaruh dan bisa menjadi senjata ampuh. Megawati Soekarno putri pernah dipersoalkan ketika mencalonkan diri menjadi presiden. Hal ini dikarenakan gelar kesarjanaan Megawati dipertanyakan oleh sebagian kalangan. Sedangkan, syarat menjadi presiden RI minimal harus S1. 

29 Okt 2011

Sumpah, Saya Pemuda

"Seandainya saya masih muda, pasti saya akan ikut turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi". Begitulah kira-kira penggalan kalimat yang saya penggal dari koran harian di pagi yang cukup panas. Pernyataan tersebut berasal dari salah seorang tokoh yang pernah mencalonkan diri menjadi presiden.Dialah satu-satunya calon presiden dari dengan background akademisi (guru besar). Walaupun begitu, dengan segudang pengetahuan dan gagasan-gagasannya, di tetap belum bisa menduduki kursi pertama di istana negara. Entah kenapa.. Mungkin beliau kena anekdot atau mitos "penamaan". katanya, orang yang kuat menjadi presiden di Indonesia biasanya memiliki nama dengan akhiran "o". Nah, jika beliau memakai akhiran "o" maka beliau tentu tak akan pernah bisa, karna namanya pun akan berubah menjadi "Raiso" (boso jowo: tidak bisa). Kali inipun, Pak Amin "Raiso" turun ke jalan untuk berdemo dengan alasan sudah tua.

22 Okt 2011

Jika Aku (Tak) Menjadi...

"Daerah-daerah sana mang gitu yah mas bro?"

tiba-tiba temenku mengajukan pertanyaan itu,ketika kami sedang menonton sebuah acara di trans tv dengan judul program:"JIKA AKU MENJADI...".aku tak begitu tau tiap hari apa saja program ini muncul dilayar kaca. yang aku tau program ini biasanya berkeliaran diwaktu maghrib.

Ada dua tokoh (objek) yang selalu ada dalam setiap efisode program ini. Objek utama adalah masyarakat biasa yang notabene adalah masayarakat miskin dengan penghasilan pas-pasan bahkan yang sering ditampilkan adalah yang tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Objek ini lebih didominasi oleh orang-orang yang sudah punya keluarga, terutama kaum laki-laki yang dianggap sebagai kepala keluarga. Selain itu ada kaum istri yang membantu menambah penghasilan suaminya atau memang suaminya sudah tidak ada atau tidak bisa bekerja. Bahkan adapula anak-anak yang tidak mampu meneruskan sekolah karena kondisi ekonomi keluarga.

28 Des 2010

Naturalisasi Hanya Sebagai "Vitamin"


Kemenangan timnas Indonesia secara berturut-turut hingga akhirnya mampu menembus babak final piala AFF 2010 merupakan magnet tersendiri ditengah-tengah keringnya prestasi persepakbolaan nasional. Oleh sebab itu, sangatlah wajar jika euforia tersebut dimeriahkan oleh masyarakat dengan berbagai cara diberbagai wilayah ditanah air.


Melihat perkembangan timnas saat ini, terdapat berbagai perbedaan dengan kondisi sebelumnya. Salah satu yang cukup menonjol adalah adanya pemain naturalisasi yang masuk dalam skuad timnas, yakni Cristhian Gonzales dan Irfan Bachdim. Kedua pemain ini merupakan orang pertama yang masuk dalam program naturalisasi sepanjang sejarah berdirinya timnas Indonesia.

Dibeberapa Negara, program naturalisasi bukanlah hal baru dalam dunia persepakbolaan. Negara-negara di Erofa yang memiliki kemajuan persepakbolaan dibandingkan Asia sudah lebih dulu menerapkan program ini. Salah satunya adalah Prancis yang menjuarai piala dunia 1998 dan Jerman yang menembus semifinal piala dunia 2010 kemarin. Sedangkan diwilayah Asia, ada Singapura yang kemudian menjelma menjadi Negara unggulan di ajang persepakbolaan Asia Tenggara.

24 Des 2010

sensitifitas PT?

Indonesia dikenal dengan masyarakatnya yang memiliki nilai-nilai kebudayaan yang luhur. Saling bergotong royong, ramah tamah serta memiliki rasa toleransi yang tinggi antar sesama. Namun, nilai-nilai tersebut sepertinya sudah hilang ketika munculnya berbagai konflik yang diwarnai dengan aksi kekerasan dimana-mana.
Kekerasaan merupakan perilaku seseorang atau kelompok yang lebih mengutamakan kekuatan fisik dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Hal ini sangat bertolak belakang dengan nilai luhur kebudayaan kita yang lebih mengutamakan nila-nilai kekeluargaan yang didasarkan pada rasionalitas yang bisa dipahami.

Bentuk kekerasan tidak mesti yang memiliki dampak kerusakan yang parah secara fisik atau kekerasaan yang dilakukan oleh sekian banyak orang. Akan tetapi konflik yang berujung kekerasan bisa juga terjadi dalam sekup yang lebih kecil seperti keluarga.

11 Des 2010

TKI dan Kegagalan Mensejahtrakan Rakyat

Terungkapnya kasus penganiayaan serta pembunuhan terhadap TKI yang menimpa Sumiati dan Kikim Komalasari merupakan cerminan kelam dunia ketenagakerjaan kita. Sumiati dan kikim hanyalah sebagian dari fenomena gunung es dunia ketenagakerjaan Indonesia. mungkin masih banyak sumiati atau kikim lainnya, baik yang terekspos oleh media atau tidak.

Selama ini, negara yang seharusnya melindungi mereka terkesan sangat reaksioner. Dalam hal ini, pemerintah hanya melakukan langkah kuratif dengan cara bertindak cepat pada saat masalah atau gejala muncul. Padahal, yang lebih tepat untuk dilakukan adalah langkah preventuf dengan melakukan upaya-upaya sistematis yang dimulai dari penyelesaian akar masalahnya.

Tidak bisa dipungkiri, keberadaan TKI diluar negeri memberikan konstribusi yang sangat besar bagi negara, yakni sebagai salah satu sumber pendapatan devisa. Menurut catatan Migran Care pada tahun 2010, Indonesia mendapat remitansi senilau US$ 7, 139 miliar dari TKI yang bekerja diluar negeri. Hasil ini jauh lebih tinggi dari pada total bantuan asing (official development assistance) yang hanya sebesar US$ 1,2 miliar.

5 Okt 2010

"Optimalisasi Peran Media Massa"

Oleh: Aris Risnandar
(penulis bukanlah pengamat atau pakar)

Pemilihan umum atau pemilu tinggal beberapa minggu lagi. Tentunya, pesta demokrasi 5 tahunan ini perlu disambut dengan baik oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia demi tercapainya kemajuan bangsa. Namun, alih-alih untuk menuju hal itu, pemilu kali ini ternyata banyak menuai berbagai kendala. Salah satunya adalah kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat.

Permasalahan sosialisasi ini sangatlah urgen demi tercapainya pengetahuan masyarakat terhadap prosesi pemilu. Apalagi, pemilu kali memiliki perbedaan yang cukup jauh dibandingkan dengan pemilu sebelumnya. Perbedaan ini misalnya terlihat dalam cara pemilihan. Jika ditahun sebelumnya cara pemilihan dilakukan dengan cara mencoblos, maka dipemilu sekarang cara itu diganti dengan cara mencontreng.

Salah satu langkah yang bisa diambil untuk mensosialisasikan pemilu kepada masyarakat.adalah dengan mengoptimalkan peran media massa. Selama ini, media massa lebih banyak mengetengahkan kampanye politik berupa ajakan kepada masyarakat untuk memilih partai yang muncul di media massa tersebut. Tiap hari baik di televisi, surat kabar, radio atau bahkan internet masyarakat terus dicekoki oleh kampanye-kampanye partai politik. Hal ini bukan hanya terjadi dalam bentuk iklan, melainkan sudah masuk dalam beberpa program acara yang bersifat kampanye.

"Anarkisme bukan Demokrasi"

oleh: Aries Riesnandar
(penulis bukanlah pengamat atau pakar)

Kebebasan berpendapat merupakan hak setiap bangsa yang juga merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. hal inipun yang menjadi agenda reformasi yang digulirkan tahun 1998. Di era sebelumnya (orde baru) kebebasan tersebut menjadi hal yang "tabu" bagi warga Indonesia. adanya kebebasan ini memberikan harapan baru bagi bangsa Indonesia untuk tidak perlu takut lagi dalam mengungkapkan tuntutannya. salah satu bentuk dari kebebasan berpendapat ini adalah melalui unjukrasa atau demonstrasi.

Seiring dengan berjalannya masa reformasi, aksi demonstrasipun kerap kjali bermunculan. aksi yang terjadi tidak hanya di jakarta sebagai pusat pemerintahan, melainkan sudah menjamur keberbagai daerah-daerah. penyebab demonstrasipun bermacam-macam mulai dari penyikapan terhadap kebijakan pemerintah sampai pada demonstrasi memperingati hari-hari tertentu.

"Pentingnya Sebuah Ketegasan"

Oleh: Aris Risnandar* 
(penulis bukanlah pengamat atau pakar)

“Sejarah pasti berulang”. Ungkapan ini kiranya cocok untuk melihat perseteruan antara Indonesia dengan Malaysia. Sekitar tahun 1961, Malaysia bermaksud untuk menggabungkan wilayah Brunei, Sabah dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu. Keinginan tersebut mendapat tantangan keras dari presiden Soekarno, yang kemudian menimbulkan istilah “ganyang Malaysia”.

Kini, hubungan antara Indonesia dengan Malaysia kembali memanas walaupun dengan pemicu yang cukup berbeda. Kali ini pemicunya cukup beragam dan beruntun, mulai dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh Pangeran Fakri dari kerajaan Kelantan Malaysia terhadap Manohara, kasus Ambalat sampai dengan kasus yang sering terjadi yakni penganiayaan terhadap TKI di Malaysia. Sebelumnya, Malaysia-pun berhasil memenangkan kedaulatan terhadap pulau Sipadan dan Ligitan.

“Yogya Bersih Korupsi”

Oleh: Aris Risnandar
{penulis bukanlah pengamat atu pakar}

Yogyakarta merupakan salah kota di Indnesia yang memiliki berbagai julukan. Ada yang menjuluki Yogya dengan sebutan kota pendidikan. Sebutan ini muncul mengingat Yogya memiliki begitu banyak lembaga pendidikan khususnya untuk level perguruan tinggi. Dari sini pula julukan kota pelajar muncul.

Julukan lain untuk Yogyakarta adalah kota budaya. Keberadaan budaya di Yogyakarta mulai dari acara-acara ritual yang dilakukan masyarakatnya sampai pada situs-situs budaya seperti candi prambanan, memang menjadi panorama tersendiri. Tak pelak orangpun bisa terpincut oleh kondisi tersebut. Hal ini pula yang kemudian memunculkan julukan lain bagi Yogyakarta, yakni kota pariwisata. Dari sisi makanan Yogya-pun memiliki sebutan tersendiri, yakni kota gudeg.

Selain julukan diatas, ada julukan lain yang baru-baru ini diberikan kepada Yogyakarta, yakni kota terbersih dari masalah korupsi. Julukan ini muncul dari lembaga survey Transparansi Internasional Indonesia (TII) Berdasarkan hasil survey yang dilakukan pada bulan September hingga Desember 2008 tersebut, Yogyakarta menduduki peringkat pertama untuk katagori daerah paling bersih dari masalah korupsi dengan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 6,43.

“Jas Merah di Trowulan”


oleh : Aris Risnandar
(penulis bukan pakar atau pengamat)

Sejarah merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan. Lewat sejarah manusia bisa belajar banyak tentang arti hidup, bahkan bisa menjadi acuan untuk kehidupan dimasa mendatang. Oleh karena itu, bung Karno pernah mewanti-wanti akan hal ini dengan sebutan “jas merah” jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Kasus perusakan terhadap situs Trowulan di Mojokerto merupakan salah satu bentuk penodaan terhadap sejarah, mengingat situs-situs yang ada disana adalah bukti sejarah dari kerjaan Majapahit. Padahal lewat situs-situs tersebut bangsa kita sebenarnya bisa belajar banyak akan kesuksesan yang pernah diraih oleh kerajaan Majapahit di bumi nusantara.

Penanggulangan tehadap kasus ini tentunya tidak bisa dilimpahkan hanya kepada salah satu pihak saja. Akan tetapi dibutuhkan dukungan penuh baik itu dari pemerintah maupun dari masyarakat. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan sudah semestinya membuat undang-undang khusus atas keberadaan serta pelestarian peninggalan sejarah seperti situs kerajaan Majapahit yang ada di trowulan ini.