Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

12 Jun 2013

Emang enak kalo banyak?


Kuliner merupakan salah satu kekayaan yang dimiliki Indonesia. Berbagai bentuk dan rasa tersebar dari Sabang sampai Papua. Berbicara kuliner, tentu yang menjadi salah satu fokus perbincangan adalah soal rasa; manis, asam atau asin. Baru-lah muncul kesimpulan; enak, kurang enak atau tidak enak. 
 
Makyoss” begitu kesimpulan salah satu program acara TV ketika sang presenter habis mencicipi makanannya. Konon katanya kata itu keluar kalo yang dia cicipi benar-benar enaknya luar biasa. 
 
gambar diambil dari ceritamakan.wordpress.com
Tapi, itu tidak berlaku buat teman saya, bukan presenter. Dia hanya aktifis mahasiswa yang saya tidak akan menyebutkan namanya disini. Kenapa? Itu karena saya takut, takut membocorkan “aib-nya”. Buat dia, enak, maknyos, top markotop, lezat atau apalah namanya bukan soal rasa, tapi lebih pada persoalan PORSI. Ya, soal ukuran; banyak atau sedikit, ngambil nasi-nya atau lauknya sendiri atau diambilin sama yang punya warung. Kesimpulannya enak atau maknyos adalah banyak dan ambil nasi sendiri. Mungkin karena itu pula bobot badannya mencapai 80 kg-an.

28 Mei 2013

Nyolong di “Angkringan Mesum”

Kampung di dekat balai kota itu unik. Saya mengetahuinya setelah bekerja di salah satu rumah yang dijadikan kantor LSM yang berlokasi disana. Dulu, daerah ini bekas terminal utama Jogja. Makanya orang-orang sering bilang bahwa itu adalah terminal lama. Sekarang yang baru ada di Giwangan. Kira-kira 2004/2005-an mulai berpindah. Dan yang lama berubah nama, berubah fungsi; XT Squere berfungsi sebagai tempat perbelanjaan yang katanya buat barang-barang kerajinan tangan (katanya ini berdasarkan hasil rapat bulanan yang saya ikuti dengan warga sekitar). 
 
saya tempel ini gambar dari google
Di sana banyak hotel. Banyak losmen. Itu ada koordinator perkumpulannya, namanya pak Muji. Dia baik dan suka maen kartu gapleh sama saya. Ada kantor polisi juga disana. Tapi nggak ada yang kenal saya. Saya juga begitu sama mereka. Hanya katanya mereka kadang dapat jatah dari hotel atau losmen. Makanya jarang ada razia. Ada banyak macam kuliner juga. Ada nasi padang, ada daging kuda, ada jejamuan, ada yang jual minuman keras, tapi bentuknya bukan kios apalagi warung makan. Itu rumah biasa. ada soto (bukan Lamongan aja lho ada yang Surabaya juga). Soto-nya rame terus dari pagi sampe jam 7 malam-an. Parkirnya-pun ada 2 shift. Pak Bejo salah satu jurunya. Sosok kakek yang trauma dengan rezim orde baru, apalagi pasca tragedi ‘65. Dia bilang sering berpapasan sama Pramudiya A. Toer waktu di Nusakambangan.

Angkringan ada nggak? Ooh itu sudah pasti ada. Ini kan saya cerita di Jogja. Angkringan adalah salah satu khas-nya. Dan dari lampu merah barat ke timur di jalan depan XT Square itu ada sekitar 5 angkringan yang beroperasi. Salah satunya dekat soto yang ada pak Bejo nya.

Angkringan itu disebut oleh sebagian warga dengan sebutan “Angkringan Hollywood” ada juga yang menyebut “Angkringan Mesum”. Ntah bagaimana asal-usul sebutan itu muncul. Padahal itu bukan bukit yang ada tulisan “Hollywood”. Mesum? Itu mungkin karena dibelakang angkringan itu ada lorong masuk ukuran satu pintu yang di dalamnya terdapat 20 kamar kos. Penghuni kos-nya ada yang berprofesi sebagai pedagang kecil-kecilan, tukang rongsokan sampai bebrapa ada yang orang sebut sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Sehingga, kalau menjelang tengah malam ada 3-4 wanita yang yang berdandan semok dan menawarkan diri.

Si empunya angkringan adalah wanita (di dialog nanti saya kasih nama mba angkringan aja), tapi tampilannya kaya pria. Waria-kah? (Wanita pria) Oh bukan, dia betul memang wanita. Lupa lagi saya namanya, yang jelas saya panggil dia “mba”. Rambutnya pendek satu sisir, bukit kembar didadanya tidak terlihat menonjol, pakaiannya sering lebih yang bersifat pria, perokok berat dan suaranya juga seperti suara pria. Riawa-kah? (Pria wanita) oh itu juga saya nggak tau. Yang jelas dia tomboy. Bagi yang belum tau kalo dia itu wanita, sering kali saya dengar ada pembeli yang manggil dia; “mas” atau “pak”. Pernah 3 kali denger rumor dari warga dia lesbi. Tapi, itu sekali lagi rumor dan gossip. Kadang kalo dia ada halangan, angkringannya ditunggu oleh wanita tua sekitar 40-50 tahunan (di dialog nanti saya kasih nama ibu asissten  aja).

Jam 10 malam saya lapar. Itu setelah selesai rapat. Yang rapat mereka pegiat yang “melegalkan” daleman komputer di seluruh Puskesmas wilayah kota Yogyakarta. Ada sekitar 20 orang waktu itu. Tapi saya hanya yang menyampaikan minuman, cemilan, LCD, kertas polio dengan bolpoinnya dalam rapat itu. Beres rapat, saya yang membersihakan bekasnya. Itulah tugas OB.

Angkringan mesum” itu 50 meter-an dari tempat kerja saya. Maka ketika sampai disana, jam masih tetap jam 10, cuma lebih sedikit. Jalanan sudah mulai sepi. Toko-toko, kios-kios atau warung dipinggir jalan sudah banyak yang tutup. Angkringan itu juga masih sepi. Hanya ada si “mba-nya” juga si ibu-ibu yang sering menggantikan dia (ibu asissten). Jadi bertiga saja sama saya.

Minumnya jahe ya mba !!” itu setelah saya mengambil nasi kucing. Nasi yang dibungkus pake Koran yang isinya hanya sekepal tangan. Sudah sama lauknya. Biasanya hanya ikan teri seukuran sendok makan atau sambal atau tempe oseng. Jahe-nya juga khas, bukan jahe sashetan. Biasanya jahe ditumbuk disana plus dengan daun sirih. “makyos” untuk menghangatkan malam waktu itu.

Tak banyak ngobrol saya sama si mba angkringan atau ibu penggantinya. Mereka saja berdua yang pada ngobrol. Saya hanya makan. Saya hanya mendengarkan. Dan ditengah obrolannya, dating sms ke si ibu asissten.

Ibu asissten: “eh… iki sing lanang wingi takon: ono meneh ra, jare?” (eh ini yang laki kemarin nanya: ada lagi nggak katanya?)

Mba angkringan: “sing ndi toh?” (yang mana toh?)

Ibu asissten: “sing wingki kae lho!! Sing polisi nggo ninja…” (yang kemarin itu lho !! yang polisi pake motor ninja)

Mba angkringan: “ooh sing kae… lha mang wingi karo sopo?” (ooh yang itu… lha emang kemarin sama siapa?)

Ibu asissten: “ya wingi karo Ria, jare apik uwonge rodo royal” (ya kemarin sam Ria, katanya orangnya baik, sedikit royal)

Mba angkringan: ”lha ko ora hubungi Ria meneh nde e? moso ndee ora nduwe nomere Ria?” (lha ko nggak hubungi Ria lagi? Masa dia nggak punya nomernya Ria?)

Ibu asissten: “ngomonge Ria agi ra iso. Makane nde e iki takon: liane ono ora? Ngono.” (ngomongnya Ria lagi nggak bisa. Makanya dia ini Tanya; lainnya ada nggak? Gitu.)

Mba angkringan: “yo wis, omongke wae iki ono Sri karo Laras ngono!!” (ya udah, bilang aja ini ada Sri sama Laras gitu!!)

Ibu asissten: “yo aku jaluk nomere!” (ya aku minta nomernya)

Mba angkringan: “iki nomere Sri” (ini nomernya Sri)

Dia ambil Hp yang ditaruh di grobak angkringannya. Saya yang ada didepannya dan terhalang oleh grobak angkringan dengan si mba-nya buru-buru ambil HP dari saku celana kanan. Siap-siap saya menuliskan nomer HP yang disebutkan dia.

Ibu asissten: “yo se…se.. piro?” (ya bentar…bentar.. berapa?)

Mba angkringan: “0..8...2…3…2…6…9…3…2…x…x…x. ne nomere Laras ono neng HP sing siji meneh, neng kamar. Ntek blas batrene” (082326932xxx kalo nomernya laras ada di HP satunya lagi, dikamar. Habis banget batrenya)

Si ibu asissten menuliskan digit per digit nomer yang disebutkan si mba angkringan. Saya juga begitu. Saya yakin mereka tidak menyangka saya save nomer yang disebutkan. Mereka pasti nyangkanya saya lagi sms-an.

Saya habiskan 2 nasi kucing. Satu gelas jahe. 2 tusuk usus. Satu sate kerang dan 3 gorengan. Kenyang. Dapat nomer HP lagi. Saya bayar. Lalu pergi setelah mengucapkan terimakasih.

Keesokan harinya saya cek nomer hasil colongan di angkringan semalam. Saya miscall 2 kali dan ternyata nyambung hehe… lalu saya sms. Dia berbales sms saya juga. Nelepon juga.

Setelah beberapa kami berkomunikasi, dia ngakunya bisnis keris. Tapi dia tidak memungkiri kalo dia banyak kenal dengan beberapa PSK. Saya penasaran betulkah begitu? Suatu saat nanti saya pengen ketemu. Hanya untuk klarifikasi dan siapa tau ada peluang bisnis disini.

Lalu bagaimanakah pertemuan saya dengan dia? Saya ceritakan di judul tersendiri……(BERSAMBUNG)

Ehhhh….bentar! Sebelum saya tutup ini cerita ada NB (Numpang Bacot): angkringan itu sudah pindah sekarang. Jadi kalian yang mau nyari jangan ke Umbulharjo. Kos-kosan di belakangnya juga udah pindah beserta para penghuninya yang ada PSK-nya. Pindah kemana? Yang mau tau silahkan mention ato DM saya ( @arismaunk )...

20 Mei 2013

PSK Setengah Porsi

Pagi itu, tiba-tiba kedua teman saya datang. Masih sangat pagi, jam 03:00 WIB. Sudah 1 mingguan kedua teman ini nggak maen ke kontrakan. Kedatangannya saya tanggapi dengan kesan negatif; “mereka lagi mabuk nih kayanya”.

Ya,mereka saling mengejek, menghardik tapi ketawa-ketiwi renyah dan tanpa beban.
Terus kenapa mereka ini? Tidak tercium bau al-kohol, jalannya tidak sempoyongan, matanya juga tidak terlihat merah?

Begini ya saya alurkan…

foto diambail dari http://www.dwiasmara.com
Kedua teman saya yang dating ini adalah si X dan si Y (ini inisial yang diambil dari akhir nama kedua teman tersebut). Malam itu, mereka mengaku sange banget. Maka, menurut mereka kondisi ini tidak boleh dibiarkan, tapi harus segera dilampiaskan. Beda kalo sange aja, mungkin cukup ke toilet untuk melampiaskannya. Saya nggak tau pasti kenapa mereka merasa sange banget. Padahal, menurut pengakuannya, mereka udah 1 minggu ini belum nokep (nonton bokep) lagi. Cuma, si X abis ngeliatin belahan bokong cewek teman sekampusnya dengan celana dalam merah yang bertali diatas ujung belahannya. Belahan bokong it uterus mempertajam penglihatannya selama 3 SKS atau 2 jam lebih. Sedangkan si Y mengaku malam sebelumnya abis ngeliat 14 video dangdut koplo yang baru di downloadnya dari Youtube.

Mereka senasib dan sepenanggungan, satu visi kemudian mengkonsep dan melakukan aksi. Layaknya serangan fajar di zaman Soekarno, mereka bergerak tengah malam, kira-kira jam 01:00 WIB. Butuh waktu sekitar 15 menit menuju target operasi yang berupa gang dan orang-orang mengenalnya dengan sebutan Sarkem (Pasar Kembang). Sebuah lokalisasi yang berada di belakang Malioboro.

Sesampainya dilokasi, puluhan PSK sudah nampak mejeng dari gerbang masuk gang 1. Si X dan si Y berjalan perlahan-lahan untuk masuk sambil melihat-lihat barangkali ada yang cocok. Seperti kaum marketing atau sales yang sudah lihai memasarkan produk, mereka menawarkan diri dengan berbagai cara; ada yang Cuma ngajak biasa, ada yang sambil mengepulkan asap rokok, ada yang sambil colek-colek teman saya bahkan sambil menggoyangkan tubuhnya pelan-pelan.

Tapi dari beberapa tawaran itu, belum ada yang memikat si X dan si Y. Apalagi, ketika si Y menemukan sesosok PSK yang duduk manis dengan kaos merah dan jeans yang serba ketat. Tubuhnya ramping, kontras dengan buah dadanya yang cukup gede. Rambut sebahunya tersimpai pelan dari 30 meteran pandangan si Y. usia-nya di prediksi sekitar 25 tahunan. Si Y langsung terpikat dan hendak tancap gas.

gw pilih yang itu” si Y memegang bahu si X yang sedang terlihat ngobrol dengan PSK di arah kanan gang, kemudian menunjukannya ke arah si wanita berbaju merah. Si X mengalihkan pandangannya ke arah cewek yang di taksir si Y. disini terjadi perdebatan antar teman yang sama-sama seleranya.

X: “bentar… bentar bos! Boleh juga tuh cewek, gw aja yah yang itu?”
Y: “wah enak aja lu !!! yang nggak bisa gitu dong!!! Kan gw yang pertama kali nemuin?”
X: “mang ini barang temuan? Haha ya nggaklah, ini tergantung transaksi plus mau apa nggak si ceweknya ma kita gitu bos…”
Y: “ya, tapi kan gw yang pertama kali liat tuh cewek dan gw langsung ok ma dia”
X: “OK di lu, belum tentu di dia”
Y: “gini aja, gw maen duluan ama dia abis itu baru lu, gimana?”
X: “anjrit… najis deh kalo bekas lu”
Y: “haha… emang disini ori semua giu?”
X: “haha… ya udah gini aja, kita datengin dulu aja dia, kita pastikan dia pilih siapa, kalo gitu gimana?”
Y: “OK, deal gw”

Mereka berjalan mendekati si cewek berbaju merah untuk menentukan siapa yang dia pilih; si X atau si Y.

Y: “hey mba manis….! Belum ada yang boking kah? Ko sendirian aja?”
PSK berbaju merah: “hey juga manis…belum nih, mau dong di bokingin ma kamu!!!”
Y: “wah aku juga mau banget donggg… harus ngasih tariff berapa nih?”
PSK berbaju merah: “200 ribu aja kalo buat kamu manis hehe…”

Sejenak mereka terdiam. Si Y Cuma punya budget 130, sedang si X Cuma 80 ribu.

Y: “100 ribu aja gimana mba seksi?”
PSK berbaju merah: “aduh… belum bisa dong mas. Kalo beneran mau 150 deh…”
Si Y sepertinya menyerah, budgetnya belum cukup. Ia memandang si X sambil bisik-bisik.
Y: “gimana tuh? Lu mau? Gw yakin budget lu nggak muat”
X: “oh oh siapa bilang? Hehe gw ambil ini cewek kata gw juga. Dah lu sana cari yang lain, tuh tadi di kanan gang ada yg lumayan bohay body-nya, lumayan, kayanya budget lu cukup kalo ma dia”

Si X menunjuk ke arah PSK dimana tadi ia sempat ngobrol-ngobrol sebentar. Body bagus dan harga hanya 100 ribu. Cuma, ketika si Y menunjukkan PSK berbaju merah dia langsung tertarik.
Si Y akhirnya memisahkan diri dengan si X serta PSK berbaju merah dan menghampiri PSK yang di rekomendasikan si X.

Si X masih keukeuh dengan PSK berbaju merah. Meski dia tau budget di sakunya nggak cukup sama tariff yang ditawarkan. Tapi dia yakin, keinginan yang kuat harus di lalui dengan proses yang kuat. Apalagi si X memang lumayan ganteng-lah di banding si Y.

Obrolan dengan si PSK berbaju merah sekarang jatuh ke mulut si X. dia mulai berproses. Tawaran beserta rayuan maut mulai di gencarkan. Sebagai mahasiswa ekonomi manajemen, dia pergunakan teori lobbying untuk mendapatkan sebuah transaksi. Soal tariff juga bukan masalah, ia tau konsep dasar ekonomi; modal sekecil-kecilnya, pendapatan sebesar-besarnya.

X: “wah benar-benar manis nih mbanya he… tapi saying yah belum ada yang boking. Atau jangan-jangan sudah ada janji sama klien gitu mba”
PSK berbaju merah: “ahh,…mas bisa aja deh he… mas-nya juga manis kalo dah ngomong, tadi kan diem aja kalah sama temannya he.. belum ada yang boking janji juga nggak ada, kan udah ada mas-nya he…”
X: “mang beneran nih mau?”
PSK berbaju merah: “iya ayo…ya mau dong mas asal sesuai tariff tadi” 
 
X: “gini mba, aku Cuma bawa uang 80 ribu, ya maklum tanggal tua masih mahasiswa lagi” si X sambil membukakan semua isi dompetnya.
PSK berbaju merah: “ehh… ya nggak bisa dong, kan tadi udah aku sebutkan tarifku”
X: “iya mba aku tau, tapi kan aku baru tau mba sekarang ini. Gini aja, kalo sekarang mba menerima aku dengan uang yang ada, aku janji deh akan jadi pelanggan mba dan pastinya kedepannya akan sesuai tariff, kalo bisa malah ta lebihin deh. Gimana mba?”
PSK berbaju merah: “beneran ya?”
X: “iya mba, serius. Aku minta nomer HP mba, biar gampang kalo saya mau ketemu”
PSK berbaju merah: “08xxxxxxxx ya udah ayo…!
Si X ditarik ke kamar. Sesampainya di kamar, PSK berbaju merah itu langsung ngajak buru-buru dengan wajah yang kurang memanjakan si X sebagai klien.
PSK berbaju merah: “ayo buka celana kamu !!!”
X: “bentar dong cantik, masa nggak pemanasan dulu !!”
PSK berbaju merah: “udah nggak usah, kamu aja bayarnya nggak sesuai tariff. Aku juga nggak akan buka baju, Cuma celananya aja yang aku buka”
X: “wah nggak bisa gitu dong !! ini kan nggak ada dalam perjanjian sebelumnya”
PSK berbaju merah: “ya udah kalo kamu nggak mau, aku balik mejeng diluar lagi”
X: “iya iya deh…”

15 menit kemudian si X keluar. Si Y ternyata sudah Nampak yang tadi nawar PSK berbaju merah. Ia menghampiri si Y sambil berkata-kata kesal:

X: “anjing….anjing nyesel deh..”
Y: “oh..oh…oh… kenapa mas bos? Ada masalahkan dengan si merah? Haha”
X: “ya muka ama body sih ok. Tapi lu bayangin gw di suruh buru-buru gitu. Nggak ada pemanasannya. Bentak-bentak. Dan yang paling gw nggak suka dia Cuma mau melepas celananya doang, ngapain coba? Anjing…anjing…”
Y: “hahahaha….ko bisa gitu bos? Gw sih curiga lu nggak bayar?”
X: “ya bayar-lah dodol, tapi gw Cuma bayar 75 ribu. Ya gimana lagi gw bawanya segitu, itu juga yang 5 ribu gw sisain buat bensin”
Y: “uuuu…sama aja dong haha… ya udah semua kan harus sesuai tariff. Kalo lu bayarnya setengah, ya di kasihnya juga Cuma setengah lah haha…”
X: “kalo cewek yang sama lu gimana?”
Y: “kalo yang sama gw yang jelas nggak kaya lu, ya meski nggak secakep si merah tadi. Full bos… nggak setengah-setengah, tapi yang tetep ada kekurangannya juga lah, namanya juga manusia”
X: “apa tuh bos kurangnya?”
Y: “pas gw liat dia buka baju, kan kelihatan tuh punggungnya? Eh belang bos tuh cewek, bekas kerokan. Kan pikiran gw jadi inget sama supir truk kalo udah masuk angin. Akhirnya sedikit mengendorkan nafsu gw deh ha…”
X: “haha….”

10 Mei 2013

Mencaci Guru (HP 2)

Kecanggihan teknologi informasi (IT) memberikan dampak yang sangat besar bagi keberlangsungan peradaban manusia, termasuk keberlangsungan tidurnya.”
(Aris Risnandar)

Dalam sebuah malam waktu-waktu itu, bahkan di bulan-bulan itu, saya jarang tidur di waktu malam. Paling-paling, saya tidur di jam 2 pagi dan harus bangun di jam 5 yang juga masih pagi. Bahkan tidak sama sekali. Jika mengingat artikel dalam sebuah Koran tentang tips dan trik awet muda, maka durasi tidur saya itu masih kurang 4-5 jam lagi. Kalo begitu, mungkinkah saya akan 4-5 tahun lebih tua dari umur saya yang tertanggal di KTP? Oh…semoga sebaliknya.

Itu bukan tanpa alasan, tapi soal kewajiban (sombong…haha). Sebagai penjaga rumah yang dijadikan kantor LSM, sebagai Office Boy (OB) dan sebagai cleaning servis-nya. Semua jabatan itu dilaksanakan disana, di rumah yang di sulap jadi kantor LSM yang depannya ada kolam yang berisi ikan Koi.

Dan hari itu, sebagai pemangku jabatan tadi, saya harus bergerak cepat, teliti, telaten tak lupa senyuman yang sudah manis meski tanpa tidur. Kenapa begitu? Ya karena pada waktu itu puluhan tamu yang punya relasi dengan LSM tempat saya bekerja akan nginep. Ada kepala desa, aktifis media, aktifis lingkungan, aktifis buruh migrant juga mahasiswa pegiat IT. Tidak hanya nginep, mereka rapat, mereka berkoordinasi mereka berkonsep untuk acara siang harinya selama 3 hari dalam rangka “Jagongan Media Rakyat”.

Menyediakan kasur, karpet dan tikar untuk tidurnya, menyediakan minuman dan makanan ringan atau berat untuk konsumsinya; itu sebagai OB. Membersihkan buat tidurnya, membersihkan bekas minum dan makannya, putung rokok dan sampah lainnya; itu sebagai cleaning servis. Menjaga barang-barangnya, sandal sampai kendaraannya; itu sebagai penjaga. Mata yang 2, tangan yang 2, kaki yang 2, pikiran dalam satu kepala harus focus kepadanya.

Dan akhirnya di jam 10 siang saya baru tertidur. Hooaam…..
Kring…..kring…. 5x… HP jadul disamping saya berbunyi.
Malas-malas saya liat. Tanpa nama. Itu artinya nomer baru. Jam di HP tertulis 11:24. Itu artinya saya baru tidur 1 jam lebih. Oh…

Saya bersuara: “hallo…”
HP bersuara: “waalaikumsalam… aduh kamana wae yeuh?” (itu bahasa sunda, artinya; aduh kemana aja nih?)

Mengingat lafal salamnya, tebakan saya langsung menyatakan bahwa itu si Rey. Rey teman saya yang sedikit susah diatur dan satu sekolah waktu di SMAN juga di kampus. Dia memang sering gonta-ganti nomer. Nggak apa-apa-lah ganggu tidur juga, siapa tau bisa pinjam duit sama dia, pikir saya dalam hati.
Agar dialognya lebih fokus, saya langsungkan aja ke bahasa Indonesia ya?...

Saya bersuara: “ada apa Rey?”
HP bersuara: “wah…wah… kemana aja nih mahasiswa abadi? Haha…” (sebagai pemberitahuan aja nih, waktu percakapan ini berlangsung, saya sudah di semester 14 dan dalam bayang-bayang DO)
Saya bersuara: “apa goblok? emang kamu udah lulus gitu? Judul skripsi aja belum di ACC haha…”
HP bersuara: “haha… ehh kamu dimana sekarang?”
Saya bersuara: “di Umbulharjo, ada apa sih?”
HP bersuara: “ya pengen tau aja kabar mahasiswa abadi… haha….”
Saya bersuara: “anjing… eh serius nih, ada apa Rey? Aku masih ngantuk. Apa kamu mau ngasih tambahan penghasilan? Atau pinjeman duit gitu? Haha…”
HP bersuara: “haha… kirain mahasiswa abadi itu nggak butuh duit”
Saya bersuara: “ah goblok kamu haha,… serius Rey?”
HP bersuara: “ngasih kerja dimana? Orang saya di Tasik haha…”
Saya bersuara: “maksudnya kamu lagi di Tasik gitu?”
HP bersuara: “iya mang dari waktu kamu sekolah disini, saya di Tasik ko”

Saya terdiam sejenak. Si Rey kan kuliah di Jogja? tapi ini bilang dari dulu di Tasik? Ini sebenarnya siapa sih? Sambil masih pegang HP, saya bergerak ambil air kran di samping kamar dan mengusapkannya ke muka.

HP bersuara: “hallo…hallo…”
Saya bersuara: “iya..iya… eia ini siapa sih?”
HP bersuara: “siapa hayo?haha…”

Terdiam lagi. Mengingat kembali suaranya. Plash back… wah rasa-rasanya saya ingat suara ini. Ini seperti guru saya yang ngajar Sejarah Islam waktu di SMAN. Adi Yoso Nuha kah? Guru saya asal NTT yang sudah fasih berbahasa sunda itu? Konfirmasi.

Saya bersuara: “ini kang Adi Yoso?”
HP bersuara: “haha… syukurlah kalo masih ingat haha…”
#$%*&@$#*


8 Mei 2013

Naksir Istri Guru (HP 1)

Akhir-akhir itu, saya baru nyadar ternyata si Dewi Sofiah itu merupakan sosok wanita cantik. Ya, si Dewi yang ketika saya kelas 3 SMAN (Sekolah Madrasah Aliyah Negeri) dia kelas 3 SMP. Saya sering melihatnya, berpapasan dengannya tapi tidak sampai memeluknya. Saya tau dia, karena dia cantik meski sedikit lugu, body-nya yang sedikit bongsor untuk ukuran SMP, kulitnya yang lumayan putih sehingga dia akan memerah tidak hanya karena malu tapi karena kepanasan juga. Dia juga tau saya, karena saya terkenal dan suka mentas theater-theater-an didkit-dikit. Itu semua karena tempat kita satu komplek.

Kesadaran saya akan kecantikan si Dewi cukup dibilang telat. Saya sudah di semester 3 sedangkan si Dewi sudah duduk di kelas 2 SMAN. Tapi, sebagaimana pepatah bertuah; “tidak ada kata terlambat”, itu. Apalagi untukmu Dewi !!! tak peduli saya harus masuk katagori LDR (itu kalau saya benar-benar jadian, meski nyatanya sampe sekarang nggak), yang penting hati kita menyatu. Tak peduli lewat HP, yang penting kita saling bertukar teks sms atau telepon. 
 
Oleh karena itu, mulailah saya bergerilnya. Mencari tau keberadaanmu, mencari tau juga nomer HP-mu.
Tidak butuh waktu yang begitu lama. Keberadaannya sudah bisa dilacak. Nomernya sudah diketemukan. Itu semua di dapat dari si Imam Safey, teman saya yang berdomisili di dekat sekolahan si Dewi. Saya segera save nomer yang di sms-kan olehnya. “sang Dewi” begitu saya simpan di kontak HP.

Jangan lama-lama juga saya untuk menyapa si Dewi. Saya harus segera mengirimkan sms kepadanya. Dan malam itu saya kira waktu yang tepat untuk menyapamu sekitar jam 08:00-an.

HP saya: “Ass. Ma Dewi Sofiahkah? Pa kbar Dewi? Sekolah dmn skrg?
HP Sang Dewi: “Wss. Baik. Maaf siapa ya?
HP Saya: oia mf gk kenalan dl he. Ni Aris, Aris Macan yg dl skolah di SMAN itu. Masih ingat kan? He
HP Sang Dewi: “ooo.. iya inget hehe”
HP saya: “Aplgi q he.. ingatanq bgtu kuat kpdmu. Menggelora dlm pkiran, menyambar dlm hati. Tak pduli dgn panasnya Jogja, aq ttp mrindukan dinginnya Tasik. Aq tau kau tdk akan pduli dgn puluhan rayuan cinta monyet anak SMA, krn kau lbih mrindukan cinta dewasa. Krna aq tau kaulah sang Dewi”

Setelah sms itu, HP saya tidak bunyi lagi. Tidak ada tanda-tanda balesan dari si Dewi. Saya mulai gelisah; “salahkah aku mengirimkan kata-kata itu sehingga dia tak mau menjawabnya? Atau mungkinkah dia tidak paham dengan kata-kataku yang sedikit puitis?” 
 
Benar-benar saya gundah gulana. Sudah 40 menitan dia belum membalas. Kenapa? Apakah ada yang salah? Ataukah dia tidak paham dengan kata-kata puitis?

Dari pada saya diselimuti rasa galau, lebih baik saya pastikan apakah dia marah dengan kata-kata saya, nggak menerima atau malah nggak ngerti karena sedikit puitis. Ya, saya harus klarifikasi. Saya harus sms dia lagi.

HP saya: “ sudah tidurkah Dewi? Atau kurang berkenan dgn sms-nya? –maaf-

Setelah 15 menit terkirim, balesan tetap tidak dating juga. 20 menit selanjutnya juga tidak ada. 30 menit kemudian masih sama. Oh.. sang Dewi, kau benar-benar membuat galau hati ini…
Dan baru setelah 45 menit sms itu terkirim, HP saya bordering. Senang betul ketika saya liat yang memanggil adalah “sang Dewi”. Saya akan mendengar suaranya. Tak perlu dia bernyanyi layaknya Madona, Byonce, Cristina Aguelera atau Fatin Shidqia. Batuknya saya kira akan terdengar merdu.

Klik. Saya angkat telpon itu.

Sang Dewi : “Assalamualaikum”
Saya : “ Waalaikumsalam”
Sang Dewi : “ini betul Aris Macan?”
Saya : “betul Wi..”
Sang Dewi: “kuliah dimana sekarang?”
Saya :“di Jogja, kalo Dewi sekolah dimana sekarang?”
Sang Dewi: “udah nggak sekolah, di rumah aja”
Saya : ”kenapa udah nggak sekolah? Bukannya masih kelas 2?”
Sang Dewi : “ya di rumah aja, ngurus anak sama suami he…”
Saya terdiam sejenak, antara kaget dan cemburu…
Saya : “beneran? Mang dapat suami orang mana?”
Sang Dewi : “Pak Rustam? He..”
Saya : “Pak Rustam? Orang mana tuh?”
Sang Dewi : “itu, kepala sekolah SMA he…”
Saya : “ ini…ini…ibu Popong? Istri pak Rustam?”
Sang Dewi : “iya hee..”


16 Jun 2012

Polandia sama dengan Polisi

Polandia. Mendengar kata ini, orang akan tertuju pada sebuah negara. Bendera dan lambangnya hampir sama dengan Indonesia. Perpaduan merah dan putih ada di bendera. Putih dan merah untuk Polandia. Elang putih mirip garuda juga tersemat sebagai lambang resmi negara. Meski lambang hampir sama, secara geografis, kedua negara ini cukup berjauhan. Polandia di Eropa. Indonesia di Asia. 

Kedua negara ini sedang mengalami hiruk-pikuk tersendiri di dalamnya. Lebih spesifik lagi, hiruk-pikuk terletak dalam aspek olahraga. Indonesia sedang di ramaikan oleh proyek pembangunan yang akan dijadikan tempat pelatihan, pendidikan serta sekolah olahraga. Semua jenis olahraga rencananya akan di pusatkan disini. Ya, disinilah tempat yang di sebut Hambalang atau wisma atlit Hambalang atau Bukit Hambalang. Untuk penyebutan terakhir, saya pernah baca dari sebuah majalah mingguan, katanya untuk menyaingi Malaysia yang telah leih dulu mempunyai pusat olahraga dengan nama bukit Jalil.

Hiruk-pikuk yang terjadi soal Hambalang ini bukan karena ada perhelatan olahraga, entah pelatihan atau kompetisi, akan tetapi proyek yang di bangun diatas tanah sekitar 32 hektar ini, sekitar 1000 meter perseginya amblas. Tapi ini belum seberapa. Ada yang lebih ambalas lagi. Uang negara disini diperkiran di curi oleh beberapa orang yang terlibat dalam proyek ini. Dana yang diajukan Rp. 2,5 triliun (yang saya baca dan dengar dari pelbagai media) dinilai banyak pihak penuh dengan ketidakjelasan. Bahkan menurut M. Nazaruddin sering mengungkapkan di media bahwa dana itu mengalir ke kongres partai Demokrat di Bandung. 


Itu hiruk-pikuk yang terjadi di Indonesia; kental dengan unsur politik (tidak sehat) dan penuh dengan kejahatan korupsi. Berbeda dengan hiruk-pikuk di Polandia. Dunia sekarang sedang tertuju kepadanya. Jutaan pasang mata memelototinya. Tak peduli waktu. Ya, disanalah kompetisi sepak bola antar negara-negara Eropa di gelar. 


Jika proyek olahraga (Hambalang) diperkiran menelan banyak kerugian untuk negara, sebaliknya pagelaran kompetisi Europa malah meningkatkan pendapatan untuk warganya dan tentu untuk negaranya. Apalagi pagelaran ini berlangsung selama hampir satu bulan. Hunian hotel melonjak tinggi. Kuliner disantap jutaan fans dari negara yang bertanding bahkan yang tidak. Transportasi juga begitu. Singkatnya, bagi Polandia, ini banyak mengundang berkah. Berbeda dengan Hambalang yang sudah menelan musibah.

"Ooh...kenapa tidak ada Polandia disana?" 

Tiba-tiba Donna menghela nafas. Mengerutkan dahinya. Bersandar lunglai dengan kaki terselonjor bebas. 

"Ini sungguh sangat merugikan. Duit ludes".

Sepertinya dia memang sudah muak dengan itu. Umpatan-nya terus menganga. Meski dia sedikit memaksa untuk pasrah. Dia terus bercerita bagaimana itu terjadi. Mendengar disampingnya; seseorang yang dianggap ibu olehnya juga oleh teman-temannya. Mendengar di depannya; seorang teman yang ia bawa ke tempat orang yang di sampingnya. Juga ada saya. Juga ada penghuni rumah yang duduk disampingnya. Sesekali orang yang saya sebut terakhir ini mencoba menghibur dia.

"Rezeki bisa dicari lagi apalagi kamu masih muda, masih kuat gitu lho. hehe!"

"iya sih, tapi kan nggak mesti dapat. Apalagi kalau ada Polandia atau temannya". 

"Ya kamu pinter-pinter aja Na dan hati-hati agar nggak terjadi lagi kejadian ini!"

"iya mba, pasti itu. Tapi yang aku sesalkan kenapa waktu itu nggak ada Polandia. Padahal deket lho dari tempatnya".

"Lha emang apa aja yang di bawa Na?"

"ya semuanya; dompet dan surat-surat, Hp, mike-up sama.... kondom. Hehehe"

"Hahahaha" semua tertawa.

#SalamEmber





30 Mei 2012

Sundel Bolong di Siang Jum'at

sumber:http://unded.deviantart.com/art

Waktu itu, tidak tahun kapan pastinya. tanggalnya dan jamnya. Empat tahun silam kira-kira saya lupa. Tapi tidak kejadiannya. Memang tak pernah saya tulis. Dalam diary atau komputer teman. Tapi hanya tersimpan dalam memory. Jika dimasukkan dalam katagori hari, itu masuk hari Jum'at.

Dan ketika Jogja yang tidak punya kos itu, saya kesana kemari. Kesana ke kos teman saya. Kemari juga ke kos teman saya lainnya. Itulah kenapa saya bilang kepada dirimu yang hendak mapir ke tempatmu wahai kawan : "e...iya kawan,  kosmu dimana? kapan aku maen kesana ya?"
Lalu saya menjawab:"Kosku yang terhitung baru 15 unit, kamu maunya yang didaerah mana?"
Masih ingat tatapanmu kala itu, wajahmu terlihat kaget bahkan hampir pingsan ketika mendengar saya mempunyai banyak kos-an.

Jum'at menjadi hari wajib untuk mendengarkan khutbah bagi saya sebagai seorang muslim. Karena itu saya selalu tinggal di kos yang dekat dengan tempat mendengarkan khotib. Karena itu, saya selalu pergi untuk berada di Condong Catur, yang memang masjidnya berada disamping kos-kosan tempat dimana saya akhirnya berada kala itu. Ada 6 kamar kos disana. 3 lawan 3 saling berhadapan.saya bisa tidur dimana saja. 

Malam Jum'at yang cerah. Jogja terbuat dari bintang-bintang yang enak dipandang kala itu. Dipandang oleh saya dan teman-teman saya dari dasar lantai kos.Hilang sudah aura mistismu wahai malam jum'at. Tengah malam yang katanya kau lebih angker, kami bahkan semakin ceria. Tak ada rasa seram-pun di bulu kuduk kami. Itu karena perputaran kartu domino yang sering dikocok oleh si Haji yang sudah penuh dengan coretan kopi di wajahnya. Sampai pagi. Sampai bintang menghilang dan diganti mentari. Sampai saya-pun tidur yang tidak ada gangguan mimpi.

"Aoommhh..." meski terasa santai saya terasa dibangunkan olehmu. Tapi tetap tidak tenang. Dan akhirnya makin tidak tenang. Itu jam sudah lebih 5 menit dari angka 12. Kenapa kalian wahai temanku,  tidak melambatkan jarum jam itu sehingga tetap dijam tujuh pertama kita memajamkan mata. Lihatlah sekarang! temanmu yang satu ini jadi terburu-buru. Tatapan malas dan lemas menuju ke arah mesjid dari balik garden jendela sambil jongkok dan menunduk.

Oh sebagian orang mulai berbondong-bondong berangkat menuju masjid. Itu mereka yang sedikit malas. Karena kalau yang rajin sudah dari jam setengah dua belasan. Dan yang rajin itu memang sudah ada tapi dalam sekala kecil. Sudah pada duduk di masjid. Mungkin dzikir. Mungkin juga ngantuk.

Malu-malu saya keluar perlahan-lahan. Menuju toilet di pinggir kiri kos. dekat dengan masjid pula. Untuk berwudlu. Saja. Tanpa mandi. Kenapa?karena takut guyuran airnya menggangu orang yang sedang dzkir.

Tidak. Tidak berangkat saya langsung ke mesjid. Karena tau saya kalau celana ini yang sedang dipakai adalah tidak sah menurut aturan syariah jika dipakai shalat. Dikampus dikos, ditrotoar, diangkot, dan dimotor teman yang jarang di cuci. Itu sudah tiga bulan belum saya cuci. Akibatnya, warna hitam jeans itu berubah setelah mendapatkan campuran warna cokelat dari debu-debu jalanan. Itu karenanya saya yakin jeans yang selama ini menemani saya kemana-mana sudah tidak suci lagi. Dan aturan mengharuskan saya untuk mensucikan dulu itu celana jika saya tetap ingin shalat dengan celana ini. Saya tidak mau berpikir shalat jum'at dengan celana basah. Maka dari itu, saya harus pinjam. Tapi orang yang punya kamar yang saya tiduri sudah berangkat. Maka saya langsung cari saja sarungnya, izin minjamnya nanti.

Ooh...sarung ternyata kamu ada di samping lemari. Tergeletak dibawah dengan lipatan yang tak jelas bentuknya.
"Untuk jadwal khatib kali ini...."
Ooh... suaramu wahai takmir mesjid ! lihatlah saya dibuat terburu-buru. Mengambilnya saya langsung ke sarung itu. Semakin terburu-buru juga saya melipatnya dengan lipatan yang nggak jelas juga diatas perut. Lalu berangkatlah dengan setengah berlari. Itu semua saya lakukan karena suaramu tadi wahai takmir mesjid !, akan mengakibatkan khotib berdiri lalu berkhutbah.

Ini saya sudah berada dihalaman mesjid, setelah kakinya melepas kedua sandal. Sudah banyak orang-orang duduk-duduk di halaman ini. Sepertinya banyak yang lebih nyaman diluar daripada harus di dalam mesjid. Padahal isi dalam mesjid masih ada yang banyak kosongnya. Tapi saya tidak. Untuk kali ini. Saya ingin sekali khusyu. Aminn. Sekalian biar bisa mendengar dan melihat dengan jelas sang khatib berkhutbah.

Ini saya yang kakinya sudah di dalam. Badan dan hatinya juga begitu. Saya ambil posisi di tengah ruangan mesjid, karena itu nampak masih kosong. Hanya ada segelintir orang disana. Tiga baris didepan sudah terisi begitu pula dua baris paling belakang.

Shalatlah saya. Itu yang dianjurkan ketika masuk mesjid. Namanya shalat tahiyyatulmasjid. Dua raka'at lamanya. Sendiri saya melakukannya di tengah masjid itu. Sepertinya orang lain sudah. Pelan-pelan saya melakukannya. Seperti khusyu sekali sepertinya. Mengangkat kedua tangan, membaca kalimat takbir dan menaruhnya diatas dada. Lalu turun ruku setelah membaca Al-fatihah dan surat An-nas.

Dari kepala sampai perut turun kebawah. Saya coba luruskan selurus-lurusnya sampai mencapai kira-kira 90 derajat. Kedua telapak tangan ditempel ketat di bagian lutut kana kiri. Ini dia; saya sedang ruku. Khusyu sekali rasanya.

Tapi, rasa khusyu itu tidak berjalan cukup lama. Sebentar, apalagi memang kalau ruku jarang ada yang lama. Bukan, ini bukan karena durasi ruku yang memang sedikit. Bahkan ini lebih cepat dari seharusnya.

Kala itu, tiba-tiba angin berhembus terasa lebih kencang dibanding sebelum ruku. Rasanya semakin menembus ke dalam. Semakin menembus, semakin dingin terasa. Buyar sudah kekhusyuan saya. Akhirnya, saya coba mencari tahu; kenapa ini bisa terjadi? kenapa pas ruku hembusannya makin kencang? dan setelah di rasa- rasa ternyata sumber angin datangnya dari belakang. Ya dari bagian pantat. Ohh tuhan adapakah dengan ini semua? Apakah ada angin topan?tornado?atau puting beliung?

Tidak, itu tidak mungkin, kalau betul terjadi, pasti orang-orang di mesjid bakal heboh. apalagi tornado,itu sepertinya hanya diperuntukan untuk Amerika. Debu-debu pasti akan banyak yang masuk jika ada puting beliung. Makanya saya yakin itu bukan.

Saya akhirnya kembali memikirikan rasa dingin ini. Semakin lama semakin dingin. Lumayan menusuk. Bahkan sampai bagian depan. Ada apa ini? Penasaran. Perlahan tangan saya bergerak kebelakang. Ternyata dia sedikit malu-malu. Untung ada kamu, dingin. Malu itu hilang meski sedikit.

Tangan saya mulai bergerak kebelakang. Sedang yang kiri tetap dalam posisi ruku. Bagian bokong yang mulai si kanan raba. Kanan berfirasat bagian inilah sumber dari kedinginan itu. Dari bagian atas si kanan memulai. Tidak ada yang aneh, sarung kusut dengan ganjelan celana dalam di dalamnya. Si kanan mulai penasaran. Apa sebenarnya yang terjadi? Turunlah dia kebagian bawah sedikit. Perlahan-lahan. Terus kebawah setelah memastikan bahwa bagian bokong tidak terjadi apa-apa. Ketika telapak si kanan perlahan-lahan kebawah, kira-kira 5 cm dari bagian bokong, si kanan terperosok.
"ooh Tuhan adaapakah ini?"

Ternyata, sarung ini bolong. tepat di bawah bokong. Inilah sumber rasa dingin itu. Cukup besar. Telapak tangan saya pun masuk ke bolong itu.
"Kenapa ini tidak terdeteksi sebelumnya?"
"Ini-kah akibat dari terburu-buru?"
Sudah-lah, itu saya diskusikan nanti. bersama teman-teman, dan tentunya teman pemilik sarung.
Sekarang, inilah yang saya harus diprioritaskan: keluar dari mesjid karena shalat saya-pun sudah tidak sah.

Hati saya berkecamuk; jemaah mesjid yang dibelakang saya pasti menertawakan bolong sarung ini. Kecuali mereka yang tidur. Tapi pura-pura tidak tahu, shalat saya juga sudah tidak sah.
"Langsung keluar atau lanjutkan shalat yang baru 1 rakaat?langsung keluar atau lanjutkan?langsung keluar atau lanjutkan?"

Entah dapat pilihan jawaban dari mana, tiba-tiba saya memilih opsi untuk keluar. Langsung. tanpa meneruskan shalat. Perlahan berdiri dari ruku. Berbalik arah dengan senyum dihati. Malu yang terburu-buru saya melangkah. Tanpa melirik orang-orang dibelakang yang saya lalui.
Ampuni hambamu ini Tuhan, menyembahmu tidak sampai akhir.






13 Mar 2012

Supir Sangar: Melo nan Galau


Saatnya saya pergi kemudian. Itu berlaku setelah saya pulang dari tempat domisili fisik. Maka itu lebih tepat lagi saya pakai kata tambahan lagi atau kembali. Di suatu petang itulah saya pergi lagi atau kembali ke itu tempat domisili fisik. Petang itu dibuat dari gerimis diperjalanan, berbagai makanan (maaf  kalau tidak sesuai dengan EYD yang dari itu) dengan rasa yang sebenarnya ingin perginya lagi beberapa hari kemudian. Lagi-lagi juga dengan rasa tanda Tanya; “diharapkan jangan sama orang sana ya!”

Tiba-tiba saya dihadapkan dengan angkot. Di sebuah jalan yang membelah masjid agung dengan kantor kecamatan juga beberapa kios produk kerajinan tangan khas daerah ini yang memanjang 2 km-an. Padahal saya cuma melambaikan tangan kiri ke dalam jalan. Saya yakin supirnya tahu kalau saya ingin menaiki mobilnya. Meski nggak terlalu bagus. Ya, supaya dia juga dapat uang dari saya. Dan saya yakin dia nggak tahu uang yang saya kasih nanti ke dia, dia nggak tahu dari hasil apa.

Mungkin karena sudah menjelang malam, sepi sekali angkot ini. Hanya ada saya yang duduk dibelakang kursi supir dan ibu-ibu yang duduk disebelah supir yang tanpa kondektur itu. Saya tahu itu setelah saya masuk didalam. Jadi ini fakta. Dan mungkin karena sepi dan sudah menjelang malam itu pula si supir menyalakan dvd player yang ada disamping kiri stirnya.

Supir ini terlihat masih muda. Kalau dia punya keinginan masuk Timnas sepertinya bisa masuk ke Timnas U-23. Atau bahkan presenter sebuah program berita tv yang selalu mensyaratkan batas usia maksimal 24 tahun. Tapi, untuk presenter ini sepertinya cukup berat, karena ada syarat lain; penampilan harus menarik. Menarik agar pemirsanya betah melihat program berita karena yang membawakannya juga betah dilihat. Dari sudut manapun (kecuali dari bawah) angle kamera menyorot dia tetap menarik untuk dilihat. Dan penilaian saya, syarat ini cukup sulit untuk dilalui sang supir. Maaf….

16 Nov 2011

Pijat Rambut

Disuatu sore yang pertengahan November ditahun dua ribu sebelas yang sudah melewati tanggal sebelas, saya terbang kesana kemari. Tapi, maaf merpati saya tidak bisa bareng sama kamu. Kesana kemarinya saya bersama motor matic. Jadi, saya terbangnya bersama itu matic motor. Motor hasil pinjeman. Itu saya gunakan setelah saya dapat izin. Dari dia. Dia yang teman saya satu kamar saat itu, satu daerah bukan saat itu saja, beda kampus sampai sekarang dari dulu.

Karena disuatu sore yang pertengahan November ditahun dua ribu sebelas yang sudah melewati tanggal sebelas, mentari sore diselimuti awan hitam. Sehitam asap knalpot truk yang saya salip dari belakang. maaf pak supir truk saya mengagetkanmu dari belakang...!!! Bukan saya nggak sopan, tapi asap yang kau keluarkan. Karena diselimuti awan hitam, itu mendung artinya. Berarti, biasanya, jika Tuhan menghendaki bakalan hujan. Sepertinya "November Rain-nya" GnR memang untuk saya.

Oh dia yang cuma punya satu kesamaan daerah. Oh matic yang saya ajak terbang kesana kemari. Oh supir truk yang saya salip. Maaf kan saya. Dan terimakasih untuk GnR yang ngasih soundtrack walau belum hujan. Ini semua karena rambut saya. Rambut yang tipis ini. yang ada di bagian paling atas kepala. Kepala yang atas. Entah kenapa saya pengen selalu memotongnya.Memotong rambutnya. Bukan kepalanya. Ini soal, mungkin fashion. Juga kenyamanan. Bagi saya, 3 cm panjang rambut sudah sangat panjang. Saya sukanya 1 cm. Sedikit tafaul sama Karim Benzema.

Disuatu sore yang pertengahan November ditahun dua ribu sebelas yang sudah melewati tanggal sebelas, karena itulah saya mutar-muter. Mutar-muter untuk cari salon. Ke jalan Gejayan, saya cari. Ternyata, salon itu tidak saya ketemukan wahai Ihsan. Itu dia manusia yang sehari sebelumnya saya tanya;
"San, kamu dicukur dimana?yang nyukurnya gimana?"


2 Nov 2011

"Sebuah Khayalan, Mahasiswa di Ujung Tanduk"

"Lalu kapan saya akan diwisuda
Adik kelas telah lebih dulu
Rasa Cemas Merasa Terus Begini
Teman baik sudah di DO
Tolonglah diriku.....
Koboy kampus yang banyak kasus
Hatiku cemas
Gelisah sepanjang hari-hariku"

Sepenggal bait dari Pidi Baiq. Cukup, dan sangat mengena sekali buat saya akhir-akhir ini. Untung, saya tidak sendirian. Ada sebagian kecil teman-teman yang bernasib sama dalam hal ini. Sedang sebagian besar tak tahu entah kemana, karena mereka sudah melakukan posisi "sakral" pemindahan toga. oh...mahasiswa oh...sarjana.
Tegang, cemas, khawatir. Sedikit saya berbagi curhat tentang perasaan. Dan rasanya, Entah kenapa saya yakin itu pula perasaan sebagian kecil teman-teman tadi yang bernasib sma. Betulkan teman-teman? (piss ah...)


30 Sep 2010

Undangan Tidur

Kau pernah bertanya kepadaku: kapan kau akan kesini? Pertanyaan itu kau ajukan ketika kau dan temanmu ini bertemu disuatu hari disuatu kampus, yang sebenarnya antara kau dan temanmu ini sudah malas kekampus. Betulkan kau? Kalau temanmu ini begitu, tapi pasti kau juga begitu. Karena temanmu ini tau kau pernah ngambil tong sampah di sudut ruangan kampus untuk kau jadikan tong sampah dikosanmu. Enak banget dikau, tidak beli tong sampah. Tapi, kasihan banget dikau, karena kau ketahuan sama satpam. Jadi kau pasti malas ke kampus karena kau malu dan takut. (Hehehe piss ah kau yang ada disana!) akhirnya, kau selalu berharap: ya tuhan pindahkan satpam itu ke fakultas lain atau ke kampus lain. Tapi jangan dipecat saya masih kasihan.

Sory kawan kau tau sendiri saya ini seperti apa? Saya ini bak seorang selebritis. Bukan bak mandi yang ada dikamar mandi terus hingga bertahun-tahun. Hingga kau hancurkan rumahnya atau kau hanya perbaiki kamar mandinya saja. Baru bak mandimu bisa pindah ke ruang tamu.

30 Des 2009

Ijasah Rongsokan

Ini saya. Saya yang baru bangun dari tidur lima jam yang lalu. Ini saya. Saya yang terduduk terdiam karena baru tidur lima jam yang lalu. Terduduk diatas kasur lantai yang jadi tempat tidur malam tadi. Kasur lantai yang sudah hilang warna aslinya. Dulu, ngga tau siapa yang beli, sikasur itu warnanya merah kaya jambu air dibungkus pakai plastic. Sekarang si kasur itu warnanya sudah merah kehitam-hitaman. Kenapa demikian? Karena kasur ini belum pernah dicuci, kalau habis dipakai tidur belum pernah dilipat dan dibereskan dan seringkali diinjak-injak oleh berbagai penghuni kontrakan. Ya, ini memang kasur multifungsi selain untuk tidur, kasur ini bisa juga dipakai untuk kesed. Posisinya pun ditaruh diberbagai tempat. Pernah dikamar depan, pernah dikamar belakang, pernah dikamar tengah dan sering juga berada diposisi ruang tengah kontrakan untuk dipakai rame-rame pas nonton tv atau maen kartu remi. Wahai kasur lantai merah jambu air yang sekarang sudah berubah warna, sungguh bermanfaat sekali dirimu!!!!.

28 Des 2009

Aku Dengan Dirinya

Lelah rasanya hati ini. Sudah sekian bulan hari-hariku dihabiskan untuk hayalan-hayalan hampa. Tanpa kusadari ternyata aku telah terlalut dalam kemapanan semu. Kemapanan yang berada dalam lingkar kemiskinan. Kemapanan yang hanya dalam angan-angan.
Sebelumnya aku bertekad untuk tidak seperti ini. Aku ingin mendobrak tembok-tembok besar yang ada di kota ini. Tidak peduli aku harus memakai perkakas apa untuk menghancurkan tembok itu. Bagiku sebesar apapun itu yang penting aku bisa berjalan melewatinya.
Kota ini ternyata menyimpan tembok-tembok besar yang harus aku runtuhkan. Satu dua tembok bisa aku hancurkan. Namun, tidak untuk yang selanjutnya. Aku hanya termenung didepannya. Tatapanku penuh dengan keputus-asaan. Naluriku sebenarnya menyimpan rasa penasaran; apakah sebenarnya yang ada dalam dibalik tembok itu?.
Namun, sampai hari ini naluri itu hanya arca dalam hatiku yang tidak bisa disentuh oleh siapapun, bahkan oleh diriku sendiri. Akupun tidak tergerak sama sekali untuk menghancurkan tembok yang ada dihadapanku.

7 Des 2009

Berbagi Hampa Hatiku Dengan Info-TAI-ment

“Pernahkah kau merasa hatimu hampa…?”
Itu band Ungu yang bilang. Bukan saya. Saya hanya menulis ulang. Tepatnya si Pasha-nya yang bilang. Diakan juru bicaranya Ungu band. Ya dia, yang kalau saya nonton info-TAI-nment nama aslinya itu Sigit Purnomo Said. Kalau dipikir-pikir si Pasha jauh juga tuh dengan nama aslinya. Padahal nama aslinya terdiri dari tiga kata dan enam belas huruf. Nggak percaya? hitung saja sendiri!.

Tapi banyak juga tuh tragedi orang-orang seperti Pasha. Dulu saya pernah punya bodiguar pas zaman-zamannya SMA. Dia yang tiap pagi membuka dan menjaga gerbang depan SMA. Pengen tahu siapa namanya? Dia itu bernama Maman Sudirman Syam. Lumayan kan namanya sedikit keren? Ada Syam-nya lho! Tapi sayang tuh, rasa kerennya itu hilang. Hilang gara-gara dia belum pernah dipanggil itu. Di panggil Maman Sudirman Syam. Dia biasanya dipanggil ucha. Hehehe. Ssstttt awas jangan ketawa lho! Dia itu bodyguar. Lah itu makanya kan jadi kurang keren. Lagian jauh banget dari Maman Sudirman Syam menjadi Ucha. Padahal nama Maman Sudirman Syam telah menghabiskan beberapa mangkuk bubur yang dibagikan kepada masyarakat pas dia dikasih nama. Untung saja pas jadi nama Ucha masayarakat nggak dikasih bubur lagi. Hehehe. Kan boros. (Buat kang Ucha yang ada disana Piss ah!)

Kembali kepertanyaan diatas

“Pernahkah kau merasa hatimu hampa…?”

6 Des 2009

Sang Pemburu Seminar

Sangat capek banget saya hari ini. Kuliah masuk jam delapan. Habisnya jam 10.30 waktu kampus. Itu semuanya 3 sks. Keluar saya jam 10.30 dari ruangan 101. Jam terus berjalan. Tapi saya nggak. Saya duduk ditempat duduk didepan bagian informasi fakultas. Baca-baca koran sedikit yang ditaruh disana. Ya biar nampak seperti mahasiswa. Baca-baca koran gitu. Padahal yang saya baca adalah lowongan kerja.
Teman-teman saya yang tadi satu kelas dengan saya pada berpencar. Ada yang pada kekantin. Saya nggak ah, nggak punya duit. Teman-teman yang lain ada yang berkumpul bergerombol. Duduk-duduk mereka. Posisinya melingkar. Ngombrol-ngobrol mereka disana. Saya nggak ah, takut disangka maen bekles. Teman-teman yang lain ada yang ke kosnya. Saya nggak ah, saya kan nggak punya kos. Dan temen kos saya yang sering saya singgahi dia lagi kuliah di fakultas lain. Makanya saya baca koran. Baca-baca lowongan kerja.